KUPANG — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menerbitkan instruksi yang mewajibkan orang tua atau wali mendampingi anak belajar selama 1,5 jam setiap malam. Kebijakan ini berlaku setiap hari mulai pukul 19.00 hingga 20.30 WITA. Aturan itu dikeluarkan untuk mendongkrak kualitas pendidikan yang dinilai masih rendah akibat minimnya keterlibatan keluarga.
Dalam rapat koordinasi peningkatan kualitas pendidikan di NTT, Jumat (29/5/2026), Melki menegaskan pendampingan ini bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban. Waktu 90 menit setiap malam harus dimanfaatkan untuk mengulang pelajaran, membaca buku, atau mengerjakan tugas sekolah.
“Setiap malam anak harus belajar di rumah didampingi orang tua minimal satu setengah jam. Ini wajib, tidak boleh tidak. Ini instruksi saya,” tegas Melki dalam arahannya.
Menurutnya, selama ini banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah dan guru. Padahal, peran keluarga sangat krusial dalam membentuk kebiasaan belajar anak.
Kepala dinas pendidikan tingkat provinsi maupun kabupaten/kota diperintahkan untuk memantau langsung pelaksanaan kebijakan ini. Melki meminta Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan kepala sekolah dan guru untuk memverifikasi pendampingan belajar di rumah.
“Nanti Dinas Pendidikan harus membuat mekanisme pengawasannya. Guru harus berkomunikasi dengan orang tua. Ini bukan sekadar anjuran, tapi kewajiban. Kita ingin anak-anak NTT cerdas, maka kebiasaan belajar harus dibangun mulai dari rumah,” katanya.
Kebijakan ini langsung menuai beragam reaksi. Sebagian orang tua mendukung karena dinilai dapat mempererat hubungan keluarga dan memperkuat peran orang tua dalam pendidikan. Namun, sebagian lainnya mempertanyakan aturan ini bagi mereka yang bekerja hingga malam hari atau tinggal di daerah terpencil dengan keterbatasan akses listrik.
Menanggapi hal itu, Melki menegaskan bahwa kendala tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pendampingan anak. Pemerintah, kata dia, akan berupaya memenuhi fasilitas dasar, termasuk penerangan.
“Kendala ada, tapi harus dicari jalan keluarnya. Kalau tidak ada listrik, pakai lampu lain. Yang penting niat dan kehadiran orang tua mendampingi anak belajar. Saya ingin dalam lima tahun ke depan kualitas SDM NTT melonjak jauh lebih baik,” tutupnya.