KUPANG — Pasar kripto kembali diguncang, dan Ethereum menjadi salah satu yang paling terpukul. Data terbaru menunjukkan harga aset digital ini telah mencapai level terendah multi-tahun, memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel maupun institusi. Indikator utama yang menjadi sorotan adalah persentase pasokan Ethereum yang masih dalam posisi untung tiga kali lipat (3x), yang kini hanya tersisa 11 persen—angka terendah sejak tahun 2017.
Angka 11 persen ini menjadi sinyal betapa dalamnya koreksi yang dialami Ethereum. Sebagai perbandingan, pada masa-masa bullish, persentase pasokan yang berada dalam posisi sangat untung bisa mencapai di atas 50 persen. Kondisi saat ini mengindikasikan bahwa mayoritas pemegang Ethereum yang membeli di harga lebih tinggi kini mengalami kerugian besar, atau setidaknya keuntungan yang sangat tipis.
Lemahnya harga tidak lepas dari aksi jual besar-besaran oleh investor institusional. Data menunjukkan terjadi arus keluar dana bersih sebesar 845 juta dolar AS dari produk ETF Ethereum spot di Amerika Serikat hanya dalam waktu satu bulan. Jika dikonversi dengan kurs saat ini, nilai tersebut setara dengan lebih dari Rp 13,5 triliun. Angka ini menjadi bukti bahwa institusi keuangan besar belum menunjukkan minat untuk kembali masuk ke pasar Ethereum dalam jangka pendek.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa tekanan jual terhadap Ethereum masih belum berakhir. Dengan tidak adanya katalis positif yang kuat dalam waktu dekat, harga berpotensi terus tertekan. Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati level support kunci dan volume perdagangan sebagai indikator pembalikan arah. Belum ada kepastian kapan sentimen pasar akan berubah, namun data on-chain saat ini menunjukkan gambaran yang suram bagi ETH.