NUSA TENGGARA TIMUR — Azis Subekti menilai hubungan Indonesia dan Singapura tengah berada dalam fase baru yang memerlukan kewaspadaan. Bukan sekadar soal investasi atau perdagangan, melainkan bagaimana memastikan setiap nilai ekonomi yang lahir dari Indonesia benar-benar kembali ke dalam negeri.
"Indonesia dan Singapura itu seperti tetangga yang rumahnya sangat dekat. Hubungannya panjang, saling membutuhkan, tetapi justru karena terlalu dekat, kadang ada panas dinginnya," ujar Azis dalam keterangan resminya, Sabtu (13/6).
Politikus Gerindra itu menyoroti sejumlah praktik yang kerap muncul di ruang publik, seperti pendirian perusahaan holding di Singapura oleh pengusaha Indonesia, dugaan transfer pricing, profit shifting, hingga under invoicing. Menurutnya, praktik-praktik ini tidak hanya menggerus penerimaan pajak, tetapi juga mengurangi ruang fiskal negara.
"Setiap rupiah yang hilang dari potensi penerimaan negara berarti berkurangnya ruang fiskal untuk membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan perlindungan sosial," kata Azis.
Ia menegaskan, dugaan manipulasi nilai ekspor komoditas harus ditempatkan dalam koridor hukum. Jika terbukti, kerugiannya bersifat sistemik terhadap anggaran negara.
Azis mendukung penuh langkah pemerintah memperkuat hilirisasi dan memperbaiki pengawasan ekspor. Menurutnya, Indonesia tidak boleh selamanya menjadi pemasok bahan mentah.
"Indonesia tidak lagi cukup hanya menjual nikel, tetapi harus menjual baterai. Tidak cukup hanya menjual CPO, tetapi harus menjual produk turunannya. Kita tidak boleh hanya menjadi tempat produksi, tetapi harus menjadi pusat pertumbuhan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan, tekanan pasar, fluktuasi rupiah, dan dinamika investasi tidak selalu bisa dibaca sebagai konspirasi. Namun, pasar juga tidak bisa dianggap sepenuhnya netral dari kepentingan.
Azis berpandangan, ke depan hubungan kedua negara akan ditentukan oleh kemampuan menjaga kepercayaan. Singapura perlu memahami bahwa Indonesia yang lebih kuat bukan ancaman. Sebaliknya, Indonesia harus membangun kekuatan ekonominya dengan tata kelola yang bersih dan institusi yang kuat.
Ia mengutip pepatah Nusantara: jangan memancing di air keruh. "Tetangga yang baik bukan yang paling cepat mengambil keuntungan ketika rumah sebelah sedang direnovasi. Tetangga yang baik memahami bahwa satu kawasan hanya akan aman kalau semua rumah di dalamnya berdiri kokoh," kata Azis.
"Indonesia yang kuat tidak akan menjadi ancaman bagi Singapura. Justru tetangga yang makmur, percaya diri, dan berdiri tegak adalah jaminan terbaik bagi stabilitas kawasan," pungkasnya.