NUSA TENGGARA TIMUR — Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN dan UNSRI tak hanya berhenti di riset laboratorium. Kedua institusi berencana membangun lahan uji coba atau pilot site di Sumatera Selatan. Di lokasi ini, petani dan peneliti bisa langsung menguji sistem monitoring dan kontrol otomatis berbasis IoT.
Teknologi yang dikembangkan mencakup sensor untuk memantau kondisi lahan secara real-time, analisis data berbasis AI, hingga pemanfaatan plasma nanobubble untuk mengolah limbah cair pertanian. “Kami ingin menghadirkan solusi yang sesuai dengan karakteristik pertanian tropis Indonesia,” ujar Kepala PRMC BRIN, Dr. Eng. Agus Purwanto.
Dengan dukungan IoT dan AI, petani tak lagi harus turun ke sawah setiap saat untuk mengecek kondisi tanaman. Data dari sensor di lahan bisa diakses melalui gawai, memberikan informasi tentang kelembaban tanah, suhu, dan kebutuhan air. “Petani dapat memantau kondisi lahan secara real-time dan mengambil keputusan berbasis data,” tambah Agus.
Ini menjadi terobosan penting di tengah ancaman perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya. Sektor pertanian selama ini rentan terhadap cuaca ekstrem, yang sering membuat gagal panen.
Dekan Fakultas Teknik UNSRI, Prof. Ir. Anis Saggaff, MSCE., Ph.D., menekankan kolaborasi ini bukan sekadar mengejar publikasi ilmiah atau paten. Pihaknya ingin hasil riset bisa langsung diterapkan masyarakat. “Kami berharap hasil riset ini tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah dan paten, tetapi juga rekomendasi teknologi yang bisa langsung diterapkan oleh masyarakat,” katanya.
Kerja sama ini juga diharapkan memperkuat kapasitas akademik dan riset di bidang pertanian cerdas, sekaligus membangun ekosistem pertanian yang adaptif terhadap tantangan masa depan. Dengan langkah ini, transformasi digital sektor pertanian Indonesia diharapkan lebih konkret, bukan sekadar wacana.