SURABAYA — Sebanyak sembilan provinsi bersaing di Liga Sepak Takraw Indonesia Wilayah II yang resmi bergulir di Surabaya, Jawa Timur. NTT menjadi salah satu peserta yang harus mengelola keterbatasan anggaran selama mengikuti turnamen bergengsi ini.
Meski dana minim, para atlet tetap bertekad mengharumkan nama daerah di ajang yang juga menjadi bagian dari proses seleksi menuju King’s Cup 2026 di Thailand. Kompetisi ini diikuti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DIY, NTT, NTB, Bali, dan DKI Jakarta.
Sejumlah pihak memberikan sokongan dana kepada kontingen NTT. Wali Kota setempat menyumbang Rp3 juta, disusul anggota DPRD Dicky Talo dan Beny Selan masing-masing Rp250 ribu, serta Yafet Horo Rp500 ribu.
Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) NTT menjadi penyumbang terbesar dengan nominal Rp5 juta. Namun, angka tersebut masih jauh dari cukup untuk menutupi kebutuhan akomodasi dan logistik selama berlaga di luar daerah.
Turnamen di Surabaya bukan sekadar ajang kompetisi antarprovinsi. Hasil dari liga ini akan menjadi salah satu acuan seleksi atlet yang akan dikirim ke King’s Cup 2026 — kejuaraan bergengsi di Thailand yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
Para atlet NTT harus bersaing ketat dengan provinsi-provinsi besar seperti Jawa Timur dan Jawa Barat yang memiliki infrastruktur pembinaan lebih mapan. Meski begitu, semangat juang tetap membara di tengah keterbatasan.
Kondisi ini bukan pertama kali dialami atlet daerah. Sejumlah kontingen dari luar Jawa kerap menghadapi kendala serupa saat mengikuti kejuaraan nasional. Namun, pengalaman bertanding di level tinggi tetap menjadi prioritas demi mengasah kemampuan.
Belum ada pernyataan resmi dari Pemprov NTT mengenai tambahan anggaran untuk kontingen. Sampai berita ini diturunkan, para atlet masih bertahan di Surabaya dan terus berjuang di setiap pertandingan.