SOE — Rangkaian kegiatan Festival Feset Tohalat Mollo di Desa Tune bukan sekadar pesta panen tahunan. Warga dan pemerintah desa merancang acara ini sebagai jembatan antara tradisi leluhur dengan kebutuhan ekonomi masa kini.
Pelataran Bubneo menjadi pusat kegiatan selama tiga hari. Masyarakat adat, pelajar, kelompok tani, hingga tamu dari desa-desa sekitar turut memadati lokasi. Mereka mengikuti berbagai agenda yang menggabungkan unsur seni, edukasi, dan ekonomi kerakyatan.
Hari pertama festival dibuka dengan pertunjukan seni budaya dan pameran pangan lokal hasil karya masyarakat. Hari kedua menjadi puncak perhatian dengan digelarnya lomba Tarian Bilut, cerita rakyat, dan Tarian Giring-giring yang diikuti pelajar SD dan SMP.
Ketua Panitia, Arid Oematan, mengatakan festival dirancang agar seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, dapat memahami nilai-nilai budaya Mollo yang diwariskan turun-temurun. "Kami ingin anak-anak sekolah tidak hanya tahu tarian, tapi juga memahami filosofi di balik gerakannya," ujarnya.
Pemerintah Desa Tune menempatkan festival ini sebagai langkah awal pengembangan pariwisata berbasis budaya. Dengan mengemas tradisi lokal dalam format festival yang terstruktur, desa berharap mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara ke wilayah Tobu.
Pameran pangan lokal yang digelar bersamaan dengan festival juga menjadi ajang promosi produk unggulan desa. Warga dapat memasarkan hasil bumi dan kerajinan tangan langsung kepada pengunjung tanpa melalui perantara.
Pelibatan pelajar SD dan SMP dalam lomba budaya bukan sekadar hiburan. Panitia sengaja menempatkan anak-anak sebagai peserta utama agar mereka tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitas budayanya. Tarian Bilut dan Giring-giring, misalnya, mengajarkan kerja sama dan ketepatan gerak yang sarat nilai gotong royong.
Festival Feset Tohalat Mollo di Desa Tune menjadi contoh bagaimana desa di NTT mengelola warisan budaya tidak hanya untuk seremoni, tetapi juga sebagai alat pendidikan dan penggerak ekonomi warga.