NUSA TENGGARA TIMUR — City unggul cukup jauh dibanding rival-rival mereka dalam statistik tersebut. Selain memuncaki daftar penangkapan, The Citizens juga berada di posisi kedua dalam jumlah larangan masuk stadion (banning orders) dengan 86 kasus.
Chelsea menguntit di peringkat kedua dengan 76 penangkapan. Klub asal London ini menjadi yang tertinggi dari ibu kota, mengungguli tim-tim lain seperti Arsenal atau Tottenham yang tidak masuk dalam rilis detail Home Office pada potongan data ini.
Manchester United tercatat berada di atas Liverpool dalam daftar, meski angka pastinya tidak disebut dalam bahan yang disediakan. Namun, dominasi dua tim Manchester dan Chelsea mempertegas pola bahwa klub dengan basis suporter besar kerap mencatatkan insiden lebih tinggi.
Secara nasional, angka penangkapan suporter sepak bola di Inggris dan Wales kembali meningkat pada musim 2025/2026. Kepolisian mencatat insiden yang berujung penangkapan pada 1.644 pertandingan—rekor tertinggi sejak UK Football Policing Unit mulai mendokumentasikan data tersebut pada 2017/2018.
Lonjakan ini mendorong kepolisian Inggris dan Wales kembali mendesak tambahan anggaran untuk pengamanan stadion. Home Office merilis data klub-klub bermasalah sebagai bagian dari upaya transparansi dan tekanan kepada klub untuk memperketat pengawasan suporter.
Manchester City yang musim lalu masih berjaya di Premier League justru mencatat catatan suporter terburuk. Angka 102 penangkapan dan 86 banning orders menunjukkan tantangan besar bagi manajemen klub dalam menjaga ketertiban, terutama saat laga tandang maupun di kandang sendiri.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak klub soal data ini. Namun, secara rutin Premier League bekerja sama dengan kepolisian dalam program edukasi suporter dan penerapan sanksi tegas bagi pelanggar.