TPT Flores Timur Melonjak 6,36 Persen di 2025, Ekonom Lewotana Sebut Ada Jeda Pertumbuhan dan Lapangan Kerja

Penulis: Fauzan Arifin  •  Senin, 27 Juli 2026 | 13:22:31 WIB
Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Flores Timur pada 2025 tercatat sebesar 6,36 persen, meningkat dari 3,58 persen pada tahun sebelumnya.

FLORES TIMUR — Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan signifikan angka pengangguran di Kabupaten Flores Timur. TPT melonjak dari 3,58 persen pada tahun 2024 menjadi 6,36 persen pada tahun 2025, atau naik hampir 100 persen dalam kurun waktu satu tahun.

Menurut Aloysius Uje Kerans, yang juga penulis analisis data tersebut, kondisi ini harus dibaca secara jernih dari berbagai sudut pandang. "Lonjakan yang hampir dua kali lipat dalam kurun waktu satu tahun ini bukan sekadar barisan angka pada tampilan statistik. Ini adalah cerminan dari dinamika sosial, pergeseran ekonomi, dan tantangan ketenagakerjaan riil yang sedang dihadapi oleh masyarakat Lewotana," tulisnya dalam analisis yang diterbitkan Ekorantt.com.

Ada Jeda Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

Salah satu faktor utama yang diidentifikasi adalah adanya jeda (lag) antara pertumbuhan ekonomi daerah dan kemampuan menciptakan lapangan kerja baru. Meskipun sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar PDRB Flores Timur menunjukkan pertumbuhan positif, peningkatan aktivitas ekonomi tersebut belum cukup kuat mengakomodasi tambahan angkatan kerja setiap tahunnya.

Selain itu, sektor primer seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi warga masih sangat rentan. Cuaca ekstrem, perubahan iklim, dan fluktuasi harga pasar kerap menggerus pendapatan dan stabilitas pekerjaan masyarakat.

Tekanan Demografi dan Kesenjangan Kompetensi

Setiap tahun, gelombang lulusan baru dari tingkat menengah hingga perguruan tinggi memasuki pasar kerja Flores Timur. Tantangan terbesarnya adalah kesenjangan kompetensi atau skill mismatch. Dunia kerja modern menuntut keterampilan spesifik, literasi digital, dan kemampuan adaptasi teknologi, sementara kualifikasi pencari kerja belum sepenuhnya sejalan.

Menariknya, kenaikan TPT juga bisa dipicu oleh meningkatnya kesadaran sosial. Dahulu, banyak masyarakat terjebak pada pekerjaan keluarga yang tidak dibayar (unpaid family workers) atau sektor informal seadanya. Kini, dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, lebih banyak individu yang secara aktif mencari pekerjaan formal yang dinilai lebih layak. Dalam metodologi survei, aktivitas "aktif mencari kerja" inilah yang tercatat sebagai pengangguran terbuka.

Risiko Efek Domino Jika Tak Dimitigasi

Aloysius memperingatkan bahwa pengangguran yang berlarut-larut bisa memicu penurunan daya beli rumah tangga, yang langsung memukul sektor UMKM lokal. Perputaran uang di masyarakat melambat. Lebih jauh lagi, tekanan psikologis pada generasi muda yang kehilangan momentum produktif di usia emas dapat memicu frustrasi dan memperlebar risiko kerawanan sosial.

"Angka TPT bukan hanya data tahunan, melainkan kumpulan cerita tentang harapan, kecemasan, dan masa depan generasi muda Flores Timur," tulisnya.

Solusi: Hilirisasi dan Pendidikan Vokasi

Lonjakan TPT 2025 dinilai bisa menjadi momentum untuk meninjau kembali strategi pembangunan daerah. Beberapa area yang perlu diperhatikan adalah hilirisasi sektor unggulan, penguatan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan pasar kerja, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal.

"Pertumbuhan ekonomi sejati tidak hanya diukur dari angka-angka PDRB, melainkan juga seberapa besar sistem ekonomi tersebut mampu memberikan ruang bagi setiap warganya untuk bekerja, berkarya, dan meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan," pungkas Aloysius. Ia menyebut angka 6,36 persen ini sebagai panggilan untuk bertindak (call to action) demi Flores Timur yang lebih adaptif dan inklusif.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: ekorantt.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top