KUPANG — Operasi pasar murah ini merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Strategis (GPPS) Bali Nusra 2026 yang berlangsung serentak di tiga provinsi. Kota Kupang menjadi perhatian khusus karena menyumbang 54,89 persen terhadap pembentukan inflasi NTT.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kupang Muhammad Khairil mengatakan operasi pasar dimulai dari Kecamatan Oebobo pada 27 Juli 2026. Empat kecamatan lainnya akan menyusul pada awal Agustus.
Komoditas yang dijual meliputi beras, minyak goreng, telur ayam, bawang merah, bawang putih, dan cabai. Harganya berada di bawah harga pasar berkat dukungan pemerintah daerah dan para mitra.
Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan Kota Kupang pada Juni 2026 mencapai 4,02 persen. Komoditas penyumbang utama adalah beras, cabai rawit, bawang merah, dan tomat yang harganya terdongkrak musim kemarau dan rantai distribusi yang panjang.
"Operasi pasar murah ini merupakan langkah nyata pemerintah menjaga keterjangkauan harga dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia," ujar Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kupang Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ignasius Repelita Lega.
Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Rio Khasananda menambahkan pengendalian inflasi perlu dilakukan secara konsisten melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Bank Indonesia akan memperkuat sinergi dengan TPID melalui operasi pasar, kerja sama antardaerah, fasilitasi distribusi, serta peningkatan produktivitas komoditas pangan strategis.
Ignasius mengajak seluruh perangkat daerah, pelaku usaha, distributor, dan kelompok tani memperkuat kolaborasi menjaga ketahanan pangan. Kepada masyarakat, ia mengimbau agar tetap tenang dan berbelanja sesuai kebutuhan.
"Pemerintah bersama seluruh mitra akan terus memastikan stok pangan tetap tersedia," katanya.