KUPANG — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melaporkan produksi rumput laut di wilayah kepulauan itu konsisten di atas satu juta ton selama enam tahun terakhir, dengan capaian sementara 2025 mencapai 1.248.126 ton. Angka ini menempatkan NTT sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di Indonesia setelah Sulawesi Selatan pada 2023.
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro mengungkapkan data Portal Satu Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi rumput laut NTT terus berfluktuasi sejak 2019. Lonjakan tertinggi terjadi pada 2020 yang mencapai 2.158.886 ton.
"Pada periode 2021-2024, produksi rumput laut NTT berada pada kisaran 1,39 juta hingga 1,56 juta ton," kata Stefania di Kupang, Selasa.
Untuk mempercepat pengembangan kawasan budidaya, Pemprov NTT telah menetapkan lima klaster strategis: Klaster Timor, Klaster Rote-Sabu, Klaster Flores Bagian Timur, Klaster Flores Bagian Tengah, dan Klaster Sumba. Sentra produksi terbesar berada di Kabupaten Kupang, disusul Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Alor, Sumba Barat Daya, Lembata, Sumba Barat, Flores Timur, Ngada, dan Nagekeo.
"Pendekatan berbasis klaster ini dilakukan agar pengembangan budidaya lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit, produksi, pengolahan hingga pemasaran," ujar Stefania.
Data Balai Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) Kupang mencatat volume ekspor komoditas kelautan dan perikanan yang didominasi rumput laut kering sempat melonjak menjadi 2.471 ton pada 2023, setelah sebelumnya hanya 822 ton pada 2022. Namun, angka itu turun drastis menjadi 91 ton pada 2024.
Stefania menjelaskan, saat ini pemasaran rumput laut NTT masih didominasi dalam bentuk kering yang dipasok ke industri pengolahan di dalam negeri sebelum diekspor ke berbagai negara, termasuk Timor Leste. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi agar nilai tambah komoditas ini bisa dinikmati di daerah.
"Kami berharap ke depan semakin banyak industri pengolahan yang berkembang di NTT sehingga tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir," kata Stefania.