LEMBATA — Penurunan aktivitas ini terlihat dari berkurangnya tinggi kolom erupsi yang kini mencapai 600 meter dari puncak, sementara kolom asap hembusan tercatat 200 meter. Petugas Pos Pengamat Gunung Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, menyebut erupsi yang terjadi kadang disertai suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang.
"Pengamatan visual periode 16-31 Juli 2026 menunjukkan aktivitas erupsi dan hembusan mengalami penurunan. Tinggi kolom erupsi mencapai 600 meter, sedangkan kolom asap hembusan mencapai 200 meter dari puncak," kata Stanislaus, Senin.
Sepanjang periode pengamatan, tercatat 821 kali gempa erupsi dan 1.312 kali gempa hembusan yang mendominasi rekaman seismik. PVMBG juga mencatat empat kali gempa guguran, 15 kali gempa harmonik, serta 17 kali tremor nonharmonik.
Yang perlu diwaspadai, gempa vulkanik dangkal dan dalam masih terekam dengan jumlah relatif stabil, masing-masing tujuh kali dan 27 kali. Kemunculan gempa ini mengindikasikan proses peretakan batuan akibat suplai magma dari kedalaman menuju permukaan.
"Kondisi itu dapat meningkatkan tekanan pada tubuh Gunung Ile Lewotolok," ujar Stanislaus.
Pengukuran deformasi menggunakan metode Electronic Distance Measurements (EDM) memperlihatkan fluktuasi jarak miring yang cenderung memanjang. Kondisi ini menandakan deflasi atau pengempisan tubuh gunung, yang diperkirakan berkaitan dengan material erupsi yang masih cukup banyak dikeluarkan selama aktivitas vulkanik.
Selama periode tersebut, petugas tidak mengamati adanya aliran lava. Namun, sinar api di puncak dan lontaran material pijar yang jatuh ke dalam kawah masih terlihat saat erupsi terjadi.
PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok. Kawasan yang perlu ekstra waspada meliputi sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut gunung api tersebut karena berpotensi terjadi guguran atau longsoran lava dan awan panas.
Warga di sekitar gunung diminta tidak panik ketika mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah. Fenomena tersebut merupakan bagian dari siklus erupsi yang sedang berlangsung.
Untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, masyarakat diimbau memakai masker pelindung hidung dan mulut, serta perlengkapan untuk melindungi mata dan kulit. Pemantauan berkelanjutan tetap dilakukan oleh Pos Pengamat Gunung Lewotolok di Lembata.