Review Farizon Supervan Rp 725 Juta: Lawan HiAce yang Lebih Cepat, Tapi Punya PR Besar

Penulis: Hendra Setiawan  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:05:32 WIB
Farizon SV dipamerkan di Nusa Tenggara Timur, menawarkan desain tanpa pilar-B untuk memudahkan akses penumpang dan barang.

NUSA TENGGARA TIMUR — Farizon SV bukan sekadar kendaraan niaga biasa. Dengan dua varian yang ditawarkan, yakni SV High Roof dan SV Medium Roof, mobil ini mencoba menggabungkan efisiensi kendaraan listrik dengan kebutuhan operasional bisnis modern. Pertanyaannya, apakah mobil ini benar-benar siap menggantikan peran HiAce yang sudah terbukti tangguh di lapangan?

Desain Tanpa Pilar-B: Solusi Praktis atau Masalah Struktural?

Fitur paling mencolok dari Farizon SV adalah desain tanpa pilar-B. Konsep ini membuat akses ke area samping menjadi sangat lebar, sehingga memudahkan proses keluar-masuk penumpang maupun bongkar muat barang. Secara praktis, ini adalah keunggulan nyata dibandingkan HiAce yang masih menggunakan desain konvensional.

Namun, perlu dicatat bahwa desain ini juga memunculkan pertanyaan soal rigiditas bodi. Farizon mengklaim struktur rangkanya menggunakan komposisi material berkekuatan tinggi lebih dari 70 persen dengan ketahanan tekanan maksimum 45.000 N. Angka ini terdengar meyakinkan, tapi pengujian jangka panjang di kondisi jalan Indonesia yang tidak rata masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibuktikan.

Dimensi dan Kapasitas: Lebih Luas dari HiAce?

Dengan panjang 5.995 mm dan jarak sumbu roda 3.850 mm, Farizon SV secara dimensi lebih panjang dari Toyota HiAce. Hal ini berdampak langsung pada kapasitas kabin yang mampu menampung hingga 16 orang penumpang. Kapasitas muatan 1.113 kg juga menjadi nilai jual utama untuk kebutuhan operasional bisnis.

Sayangnya, dimensi yang besar ini juga berarti butuh lahan parkir yang lebih luas dan ruang manuver yang lebih hati-hati di jalanan perkotaan yang padat. Pengemudi yang terbiasa dengan HiAce perlu beradaptasi dengan panjang bodi yang hampir mencapai 6 meter ini.

Baterai CP-S dan Jarak Tempuh: Realistis atau Sekadar Klaim?

Farizon SV menggunakan baterai CP-S berkapasitas 82,883 kWh dengan sistem kelistrikan 400V. Pabrikan mengklaim jarak tempuh efisien mencapai 360-380 km. Untuk penggunaan dalam kota, angka ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk operasional harian. Namun, perlu diingat bahwa angka tersebut adalah klaim pabrikan yang biasanya didapat dari kondisi ideal.

Fitur fast charging dengan konektor CCS2 menjadi nilai tambah signifikan. Pengisian dari 20 persen hingga 80 persen hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, asalkan pengguna menemukan charger cepat yang kompatibel. Di sinilah masalahnya: infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan komersial di Indonesia masih terbatas, terutama di luar Pulau Jawa.

Performa Motor Listrik: Lebih Kencang dari Diesel

Motor listrik permanent magnet synchronous menghasilkan daya maksimum 230 PS dan torsi 336 Nm. Dengan konfigurasi front-wheel drive, mobil ini menawarkan akselerasi yang lebih responsif dibandingkan HiAce diesel. Torsi instan dari motor listrik membuat mobil ini terasa lebih lincah saat membawa muatan penuh di tanjakan.

Performa ini memang tidak akan membuat penumpang mabuk perjalanan, tapi untuk kebutuhan komersial, tenaga yang dihasilkan sudah lebih dari cukup. Yang perlu diperhatikan adalah konsumsi energi saat muatan penuh dan kondisi macet — dua skenario yang sangat memengaruhi jarak tempuh aktual.

Fitur Keselamatan: ADAS Lengkap di Kelasnya

Farizon SV dibekali rangkaian ADAS yang cukup lengkap untuk kelas kendaraan komersial. Fitur seperti AEB (Autonomous Emergency Braking), ACC (Full-Speed Adaptive Cruise Control), dan RCTA (Rear Cross-Traffic Alert) menjadi pembeda utama dibandingkan HiAce yang masih mengandalkan fitur keselamatan standar.

Fitur lain seperti kamera AVM 360, TPMS, dan rem parkir elektronik membantu pengemudi dalam manuver harian. Namun, perlu diingat bahwa fitur-fitur ini hanya bekerja optimal jika sensor dan kamera dalam kondisi bersih — sesuatu yang perlu diperhatikan untuk kendaraan yang sering beroperasi di area berdebu atau berlumpur.

Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membeli

Harga Rp 725 juta menempatkan Farizon SV di posisi premium untuk kelas kendaraan komersial. Dengan budget yang sama, konsumen bisa mendapatkan HiAce dengan sisa uang untuk biaya operasional beberapa tahun. Keputusan membeli Farizon SV harus mempertimbangkan total cost of ownership, termasuk biaya listrik versus solar, serta depresiasi nilai jual kembali yang belum teruji.

Kesiapan infrastruktur pengisian daya menjadi faktor krusial. Untuk operasional yang hanya berada di dalam kota dengan akses ke charger cepat, Farizon SV adalah pilihan menarik. Namun, untuk rute antar kota atau daerah dengan infrastruktur listrik terbatas, mobil ini masih belum bisa menjadi andalan utama.

Kesimpulan: Cocok untuk Siapa?

Farizon SV adalah kendaraan komersial listrik yang menawarkan banyak hal: desain modern, fitur keselamatan lengkap, dan performa yang mumpuni. Mobil ini cocok untuk operator bisnis yang sudah memiliki infrastruktur pengisian daya di tempat operasionalnya, seperti hotel, bandara, atau perusahaan logistik dalam kota.

Untuk pemakaian umum yang membutuhkan fleksibilitas rute jauh, Toyota HiAce masih menjadi pilihan lebih rasional. Farizon SV adalah lompatan berani ke masa depan, tapi masa depan itu masih perlu didukung oleh ekosistem yang belum sepenuhnya siap di Indonesia.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top