KUPANG — Ribuan rumah di tujuh kabupaten di Pulau Flores kini kosong ditinggalkan penghuninya yang mengungsi pascagempa. Kondisi ini mendorong Polda Nusa Tenggara Timur mengerahkan personel untuk berpatroli rutin di kawasan permukiman yang ditinggalkan tersebut.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko menyampaikan perintah peningkatan patroli telah diberikan kepada seluruh jajaran Polres di wilayah terdampak. Fokus pengamanan diarahkan pada rumah-rumah warga yang kosong serta aset berharga yang ditinggalkan selama masa tanggap darurat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), jumlah pengungsi mencapai 7.670 orang yang tersebar di 38 titik pengungsian. Mereka berasal dari tujuh kabupaten yang berada di Pulau Flores.
“Di tengah banyaknya warga yang mengungsi, Polda NTT juga mengantisipasi potensi gangguan keamanan di permukiman yang ditinggalkan,” kata Rudi Darmoko di Kupang, Senin.
Polda NTT memberikan perhatian khusus terhadap pengungsi mandiri yang masih bertahan di lokasi dengan fasilitas terbatas. Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan menjadi prioritas distribusi bantuan.
“Kita tidak ingin ada yang memanfaatkan bencana seperti ini dengan melakukan hal-hal yang justru merugikan korban gempa,” tambah dia.
Untuk membantu pengungsi mandiri yang belum memiliki tempat perlindungan layak, Mabes Polri menyiapkan bantuan berupa tenda, selimut, dan kasur.
Penentuan lokasi pengungsian sementara maupun lokasi yang dapat digunakan dalam jangka lebih panjang akan dikoordinasikan bersama BPBD dan pemerintah daerah. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum di tengah bencana alam yang terjadi di daerah itu.