Sebanyak 31 dari 189 kepala keluarga di Desa Kerirea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, kehilangan tempat tinggal layak akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu. Memasuki hari kelima pengungsian, warga kini berjuang memenuhi kebutuhan air minum bersih lantaran bak penampung air rusak dan belum ada bantuan dari pemerintah daerah yang tiba.
ENDE — Warga Desa Kerirea yang mengungsi di empat posko terpaksa menempuh jarak sekitar satu kilometer untuk mengambil air dari kali setiap hari. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pasokan bahan makanan dan obat-obatan, sementara Poskesdes setempat masih belum beroperasi pascagempa.
Kepala Desa Kerirea, Ambros Karo, menyampaikan bahwa hingga Rabu (19/8/2026) belum ada satu pun bantuan logistik dari pemerintah yang masuk ke desanya. Padahal, laporan data bencana sudah disampaikan ke BPBD Kabupaten Ende melalui Pemerintah Kecamatan Nangapanda.
"Yang sangat dibutuhkan itu air minum bersih," ujar Ambros kepada Ekora NTT pada Rabu (19/8/2026). Ia menegaskan kebutuhan mendesak lainnya menyusul keluhan warga, mulai dari makanan siap saji hingga obat-obatan untuk balita dan lansia.
Ketiadaan layanan kesehatan di Poskesdes menambah beban pengungsi. Warga yang mengalami luka ringan atau sakit akibat kelelahan selama mengungsi tidak memiliki akses pengobatan cepat, sehingga harus bergantung pada bantuan warga lain.
Dari total 189 kepala keluarga di Desa Kerirea, tercatat 31 rumah mengalami kerusakan dengan rincian 13 unit masuk kategori rusak berat. Guncangan gempa susulan yang masih terus terjadi membuat warga enggan kembali ke rumah masing-masing.
Ambros menjelaskan, warga memilih bertahan di tenda pengungsian lantaran trauma dan khawatir bangunan yang retak dapat runtuh sewaktu-waktu. Empat posko pengungsian didirikan untuk menampung warga dari empat dusun yang tersebar di desa tersebut.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Ende, total warga yang masih bertahan di tenda pengungsian mencapai 3.928 jiwa. Pemerintah kabupaten mengklaim telah menyalurkan 2.300 paket bantuan yang menyasar 10 kecamatan terdampak gempa di wilayah Ende.
Namun, distribusi bantuan tersebut dinilai belum menjangkau Desa Kerirea secara merata. Ambros berharap Pemkab Ende segera memprioritaskan pengiriman air bersih dan logistik kesehatan ke desanya, mengingat akses air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.