LEWOLEBA — KSP Kopdit Pintu Air KCP Wulandoni tidak berhenti pada penyaluran pinjaman. Koperasi yang membawahi 2.547 anggota di Kecamatan Wulandoni dan sekitarnya ini menerapkan model pendampingan usaha yang berjenjang, dari analisis kelayakan hingga pemecahan masalah pemasaran.
Bernard Belawa, pimpinan KSP Pintu Air KCP Wulandoni, menyebut konsentrasi terhadap usaha anggota diawali dengan mengidentifikasi jenis usaha dan kebutuhan modal. Setelah itu, koperasi melakukan analisis kelayakan sebelum akhirnya memberikan pendampingan penggunaan modal.
Pendampingan yang diberikan tidak seragam, melainkan menyesuaikan jenis usaha masing-masing anggota. Bernard memaparkan beberapa langkah strategis yang sudah diterapkan pihaknya.
Sebaran anggota koperasi ini mencakup petani, nelayan, dan peternak yang tergabung dalam 16 titik, unit, dan kelompok. Seluruh kelompok tersebut telah dikukuhkan dan rutin menggelar Rapat Anggota Bulanan (RAB) sebagai wadah komunikasi dan evaluasi.
Hasil pendampingan mulai terlihat pada beberapa sektor. Pertanian hortikultura, perikanan, perdagangan, kuliner, usaha rumah tangga, hingga UMKM kerajinan berbahan alam perlahan menunjukkan kemajuan.
Di tingkat operasional, komite dan manajemen mengandalkan semangat gotong royong. Bernard menuturkan tim kerja di cabang menjalankan pendekatan pelayanan setiap minggu yang sudah terjadwal, ditambah pertemuan kelompok secara rutin.
“Ketika berhadapan dengan kendala dalam tugas di lapangan, ada kiat yang dibangun tim kerja di cabang yakni semangat pendekatan pelayanan setiap minggu yang sudah terjadwal, dan pertemuan kelompok adalah kunci utama dalam menghidupi semangat kekeluargaan,” ujarnya di Lembata, Senin (24/8/2026).
Prinsip penyelesaian masalah juga menjadi pegangan. Jika ditemukan persoalan di lapangan, langkah pertama adalah identifikasi akar masalah, lalu dicari solusi bersama tanpa memunculkan persoalan baru.
“Prinsipnya kita tetap berpegang pada menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru, sehingga kepuasan anggota menjadi prioritas pelayanan,” tutur Bernard.
Model pendampingan ini diharapkan memperkuat posisi koperasi sebagai sokoguru ekonomi di tingkat akar rumput, khususnya di kawasan pesisir dan pertanian Lembata bagian selatan.