KUPANG — Lambertus Laba Hurek mengembuskan napas terakhir di salah satu rumah sakit swasta di Kota Kupang. Pria kelahiran Mawa, Kabupaten Lembata, 22 Oktober 1960, itu meninggalkan jejak pengabdian panjang yang tidak hanya terbatas pada tugas sebagai aparatur sipil negara, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat melalui pendidikan dan ekonomi bersama.
Semasa menjadi ASN, almarhum berdedikasi di dunia pendidikan formal hingga mencapai pangkat Pembina, golongan ruang IV/a. Namun, pengabdiannya tidak berhenti di situ. Sejak 2005 hingga akhir hayatnya, ia aktif menggerakkan pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sebuah ruang yang diyakininya sebagai kesempatan belajar bagi siapa saja.
Di luar pendidikan formal, nama Lambertus juga lekat dengan gerakan literasi di provinsi berbasis kepulauan ini. Sejak 2018, ia terlibat aktif dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Provinsi NTT. Ia kerap dipercaya menjadi instruktur dan narasumber dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Kepercayaan terhadap kapasitasnya juga datang dari institusi penjamin mutu. Selama satu dekade, sejak 2016 hingga 2026, almarhum tercatat sebagai asesor Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (BAN PAUD dan PNF). Rentang waktu tersebut menunjukkan konsistensinya dalam memastikan kualitas layanan pendidikan nonformal di lapangan.
Di sektor ekonomi kerakyatan, Lambertus adalah sosok yang tak asing di Koperasi SamiJaya. Ia memulai kiprahnya sebagai anggota pengawas pada periode 2012–2018. Kiprahnya kemudian menanjak ketika dipercaya menjadi Ketua Pengawas pada 2019–2021 dan kembali mengemban amanah yang sama pada 2022–2024.
Konsistensinya berlanjut pada periode 2023–2025 saat ia masih dipercaya sebagai Ketua Pengawas. Sejak 2025 hingga akhir hayatnya, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Koperasi SamiJaya. Bahkan, untuk kepengurusan periode 2026–2030, almarhum telah ditetapkan sebagai Wakil Ketua I yang membidangi pendidikan.
Bagi keluarga dan rekan sejawat, kepergian Lambertus bukan sekadar kehilangan anggota keluarga, melainkan kehilangan sosok yang puluhan tahun hadir di tengah masyarakat. Ia meninggalkan empat anak, tiga menantu, dan empat cucu.
Warisan yang ditinggalkannya bukan berupa benda, melainkan pengalaman, pengetahuan, dan kerja pelayanan yang telah diberikan selama bertahun-tahun dalam pendidikan, literasi, dan koperasi. Selamat jalan, Lambertus Laba Hurek. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta penghiburan.