NAGEKEO — Di tengah hamparan tenda pengungsian dan wajah-wajah yang masih diliputi kecemasan pascagempa, perhatian Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko justru tertuju pada kelompok yang paling rentan: anak-anak. Ia memastikan Tim Psikologi Polri telah diterjunkan untuk memberikan pendampingan sekaligus trauma healing bagi para penyintas muda di lokasi pengungsian.
Puluhan anak yang mengungsi diajak bermain, bernyanyi, dan berinteraksi dalam kegiatan yang dirancang untuk mengembalikan keceriaan mereka. Senyum dan tawa anak-anak perlahan mulai terdengar kembali di antara tenda-tenda darurat yang berdiri di Lapangan Berdikari Danga.
Bagi sebagian anak, gempa bumi bukan hanya soal getaran yang meruntuhkan bangunan. Mereka menyaksikan kepanikan orang dewasa, harus meninggalkan rumah, hingga tidur di tempat pengungsian dengan ketidakpastian akan gempa susulan. Pengalaman ini, menurut Kapolda, meninggalkan luka psikologis yang tidak selalu tampak secara kasatmata.
“Tidak semua luka terlihat. Ada luka yang tersimpan dalam ingatan dan perasaan,” ujar Irjen Pol. Rudi Darmoko di sela kunjungannya, Jumat (21/8/2026). Ia menambahkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan dasar.
Kapolda NTT menegaskan bahwa membangun kembali kehidupan setelah bencana berarti juga mengembalikan keberanian serta rasa aman di hati anak-anak. Pendekatan yang dilakukan Tim Psikologi Polri sengaja dibuat sederhana dan dekat dengan dunia anak, sehingga mereka memiliki ruang untuk mengekspresikan diri dan kembali merasa nyaman.
“Anak-anak korban bencana tidak boleh kehilangan harapan,” tegasnya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik angka korban dan kerusakan bangunan, terdapat manusia yang membutuhkan perhatian untuk kembali bangkit.
Kehadiran Kapolda di lokasi pengungsian bukan sekadar seremoni. Polri terus bergerak di berbagai lini penanganan bencana di Flores, mulai dari distribusi bantuan logistik, pelayanan kesehatan, pengamanan lokasi pengungsian, hingga penyediaan air bersih. Pendampingan psikologis bagi anak-anak menjadi salah satu fokus utama agar proses pemulihan berjalan menyeluruh.
Bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, kunjungan langsung pimpinan Polda NTT memberikan sinyal bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit ini seorang diri. Negara hadir tidak hanya melalui bantuan material, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi mental para penyintas.
Di antara seluruh upaya tersebut, senyum seorang anak menjadi indikator paling sederhana bahwa harapan mulai tumbuh kembali. Bencana boleh merusak rumah, tetapi tidak boleh memadamkan mimpi mereka untuk bangkit.