JAKARTA — MUI tidak berhenti pada penyaluran bantuan logistik darurat untuk korban gempa NTT. Kini, lembaga keagamaan itu bersama sejumlah lembaga amil zakat mulai bergerak pada tahap pemulihan dengan mengirim tim penilai ke lokasi bencana.
Wasekjen MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Mabroer MS, mengonfirmasi bahwa tim asesmen yang terdiri dari dua orang telah berada di lapangan selama lima hari. Mereka bertugas melakukan survei dan pemetaan untuk menentukan program pemulihan yang dibutuhkan masyarakat.
“Insya Allah kerja sama dengan lembaga-lembaga amil zakat ini akan kita lanjutkan pada tahap recovery yang saat ini MUI, dalam hal ini lembaga advokasi penanggulangan bencana, sudah mengirim tim asesmen dua orang untuk ke lapangan selama lima hari,” ujar Kiai Mabroer dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu.
Hasil asesmen di lapangan nantinya menjadi dasar penentuan program. MUI menyebut bencana yang mengguncang NTT tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga sejumlah sarana yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan.
Prioritas utama MUI adalah fasilitas keagamaan dan pendidikan Islam yang rusak. Beberapa masjid, mushalla, dan satu pesantren dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa.
“Apakah akan merenovasi atau membangun ulang masjid yang ada di sana, karena banyak masjid maupun mushalla dan ada satu pesantren juga yang mengalami kerusakan akibat gempa di NTT,” kata dia.
MUI menegaskan penanganan bencana tidak cukup berhenti pada pemenuhan logistik. Pemulihan kehidupan masyarakat menjadi pekerjaan lanjutan yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Pemulihan pascabencana diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi fisik lingkungan. MUI juga memastikan anak-anak korban gempa dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan seperti sedia kala.
“Kita berharap para korban bisa bangkit kembali untuk menata ulang kehidupan mereka, termasuk khususnya anak-anak bisa sekolah kembali seperti sedia kala,” kata dia.