NUSA TENGGARA TIMUR — Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan akibat aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung di ibu kota. Sentimen ini membuat pelaku pasar memilih bertahan di aset aman, meskipun indeks dolar AS terpantau relatif datar.
"Rupiah ditutup melemah tipis juga seiring dengan indeks dolar AS sendiri juga terpantau datar dengan investor mengantisipasi data inflasi PCE dan PDB AS malam ini," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/8).
Di tengah pelemahan rupiah, pergerakan mata uang kawasan Asia terhadap dolar AS menunjukkan arah yang beragam. Yuan China mencatatkan penguatan tipis 0,01 persen, sementara yen Jepang terapresiasi lebih dalam sebesar 0,13 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 0,46 persen.
Kondisi serupa juga terjadi di mayoritas mata uang utama negara maju. Dolar Australia menjadi pengecualian dengan mencatatkan penguatan 0,27 persen, sementara franc Swiss terkoreksi paling dalam hingga 0,20 persen terhadap dolar AS.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mengarahkan perhatian pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar malam ini. Data tersebut akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Jika data inflasi PCE menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah berpotensi berlanjut. Sebaliknya, data yang melandai bisa memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya.
Sepanjang sesi perdagangan Rabu, pergerakan rupiah cenderung terbatas dengan kisaran yang sempit. Investor memilih untuk tidak mengambil posisi besar sebelum kejelasan dari dua faktor utama, yakni situasi keamanan dalam negeri pasca aksi demonstrasi dan arah kebijakan moneter global.