NUSA TENGGARA TIMUR — Persaingan ponsel lipat tahun ini mencapai titik paling intens. Samsung sudah lebih dulu melempar Galaxy Z Fold 8 Ultra dengan harga USD 2.099 (sekitar Rp 33,5 juta), dan Apple dikabarkan akan membalas lewat iPhone Ultra yang harganya bisa menembus USD 2.500 (sekitar Rp 40 juta) saat dirilis. Dengan selisih harga yang berpotensi besar, pertanyaannya bukan cuma soal gengsi, tapi apakah mahalnya itu sepadan dengan apa yang Anda dapatkan.
Untuk konteks pasar Indonesia, uang segitu bisa dipakai untuk membeli motor matic baru atau DP mobil. Jadi, sebelum tergoda fitur canggih, tanyakan dulu: apakah Anda benar-benar butuh ponsel lipat, atau sebenarnya tablet sudah cukup? Ini keputusan yang harus berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar gengsi.
Rumor menyebut iPhone Ultra justru lebih lebar, mirip paspor, dengan ketebalan sekitar 4,8 mm dan bobot 8,1–8,5 ons. Bentuk ini lebih nyaman digenggam dan saat terbuka, layar 4:3-nya memberi ruang setara buku untuk multitasking atau membaca. Walau secara angka Samsung lebih tipis dan ringan, saya lebih memilih siluet lebar yang praktis untuk penggunaan harian.
Faktanya, bekas lipatan di Galaxy Z Fold 8 Ultra tidak lagi mengganggu. Teknologi engsel dan layar model tetesan air (teardrop) Samsung sudah sangat matang—lipatannya nyaris tak terlihat jika dilihat dari depan. Saya masih bisa merasakan sedikit lekukan di bawah jari, tapi itu bukan masalah besar. Jika Apple benar-benar sukses menghilangkan lipatan, itu pencapaian luar biasa. Tapi untuk pengguna rata-rata, hidup dengan sedikit lipatan bukan pengorbanan besar.
Samsung melengkapi foldable-nya dengan tiga kamera: utama 200MP, ultrawide 50MP, dan telefoto 10MP dengan zoom optik 3x. Untuk memotret subjek jauh tanpa kehilangan detail, lensa telefoto itu penting. Samsung juga memberi fitur Pro Video dan Expert RAW yang memberikan kendali manual penuh. Kalau kreativitas adalah prioritas utama, Z Fold 8 Ultra pemenangnya mutlak.
Efisiensi chip Apple memang legendaris, dan optimasi background iOS yang agresif bisa membuatnya setara. Tapi Samsung sudah membuktikan diri dengan angka nyata. Selisih kapasitas memang kecil, namun ini tetap menjadi poin plus untuk ketenangan pikiran.
Tapi untuk produktivitas mentah, DeX milik Samsung adalah senjata pamungkas. Menghubungkannya ke monitor eksternal mengubah ponsel menjadi workstation desktop. Ini standar yang sangat tinggi untuk ditandingi Apple.
Pada akhirnya, pilihan tergantung prioritas. Galaxy Z Fold 8 Ultra adalah pilihan rasional dengan performa dan multitasking yang sudah teruji. iPhone Ultra adalah taruhan pada masa depan dengan harga premium yang belum pasti sepadan. Tunggu ulasan setelah peluncuran untuk melihat apakah Apple benar-benar bisa memenuhi janji besarnya.