Tanggap Darurat Gempa Flores Diperpanjang 14 Hari, ASITA NTT: Kunjungan Wisata ke Labuan Bajo Tetap Normal

Penulis: Jauhari Lubis  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 23:17:32 WIB
Kunjungan wisata ke Labuan Bajo dan sekitarnya tetap normal selama perpanjangan masa tanggap darurat gempa Flores.

Perpanjangan masa tanggap darurat gempa Flores hingga 12 September 2026 tidak mengguncang sektor pariwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya. Ketua ASITA NTT Oyan Kristian menegaskan tidak ada satupun anggota asosiasinya yang melaporkan pembatalan tur selama periode tersebut.

KUPANG — Oyan Kristian menyatakan aktivitas pariwisata di Pulau Flores kembali bergerak normal, meskipun pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat gempa untuk 14 hari ke depan. Ia mengkonfirmasi bahwa sejak status darurat diberlakukan, belum ada agen perjalanan yang mengajukan pembatalan kunjungan wisatawan.

"Untuk perpanjangan masa tanggap darurat ini tidak sama sekali mempengaruhi kegiatan dan aktivitas pariwisata yang sedang berjalan saat ini. Jadi tidak ada pembatalan, setidaknya ini dari anggota ASITA NTT yang sampai saat ini memang tidak menginformasikan kepada kami tentang ada tur yang batal," kata Oyan saat dihubungi dari Kupang, Senin.

Pemerintah Provinsi NTT resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana gempa Flores terhitung sejak 29 Agustus hingga 12 September 2026. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gempa susulan di wilayah tersebut.

Destinasi Mulai Dibuka Kembali

Sejumlah lokasi wisata andalan di Flores telah dinyatakan aman dan kembali menerima kunjungan setelah melalui proses asesmen. Salah satunya adalah Danau Kelimutu yang resmi dibuka untuk publik pada 25 Agustus lalu.

Menurut Oyan, pembukaan bertahap ini merupakan sinyal positif bagi industri pariwisata lokal. Ia menilai destinasi yang sudah dinyatakan aman bisa langsung dipromosikan untuk memberikan pilihan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Flores.

"Beberapa destinasi wisata sudah dibuka selama beberapa hari terakhir ini, seperti Danau Kelimutu itu sudah dibuka dari tanggal 25 Agustus. Kami pikir ini langkah yang baik untuk tetap mendorong agar kegiatan pariwisata tetap berjalan," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan sejumlah objek wisata yang masih berisiko tinggi, seperti Desa Adat Wae Rebo dan Liang Bua, sebaiknya tetap ditutup sementara. Penutupan ini bukan langkah berlebihan, melainkan bagian dari upaya memastikan keamanan wisatawan dari potensi gempa susulan.

Fasilitas Umum dan Infrastruktur Butuh Percepatan Perbaikan

ASITA NTT mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki fasilitas umum dan akses jalan Trans-Flores yang rusak akibat gempa dan longsor. Kondisi infrastruktur ini sangat krusial terutama untuk mendukung rute wisata Flores Overland yang banyak diminati pelancong.

Oyan juga meminta agar bangunan di kawasan destinasi yang biasa digunakan wisatawan untuk beristirahat atau menerima penjelasan, diperiksa kembali. Bangunan tersebut harus dipastikan telah diasesmen dan dinyatakan aman sebelum kembali difungsikan.

"Untuk fasilitas gedung-gedung di destinasi wisata yang mungkin digunakan untuk wisatawan beristirahat atau mendapat penjelasan tentang sebuah destinasi wisata, kami mohon agar dipastikan bangunan-bangunan itu sudah diasesmen, sudah dinyatakan aman, baru wisatawan boleh masuk," jelasnya.

Informasi Satu Pintu dari BPOLBF Jadi Acuan

Untuk menjaga kepercayaan wisatawan, ASITA NTT mengandalkan informasi resmi dari Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) sebagai rujukan utama. Data dari lembaga ini disampaikan secara reguler, hampir setiap hari, kepada para pelaku usaha.

Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada wisatawan secara langsung maupun melalui mitra agen perjalanan di luar daerah. Oyan menegaskan bahwa validasi data dari pemerintah sangat dibutuhkan agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di lapangan.

"Kami membutuhkan validasi dari pemerintah melalui informasi-informasi yang benar dan resmi. Seperti saat ini kami mendapat informasi terkini dari BPOLBF yang secara reguler, hampir setiap hari kami mendapat informasinya," katanya.

Di samping itu, ASITA NTT juga mendorong pemerintah menyiapkan anggaran khusus untuk promosi dan pemasaran destinasi wisata di Pulau Flores, termasuk Taman Nasional Komodo. Promosi dinilai perlu terus digencarkan dengan menyampaikan kondisi faktual terbaru agar wisatawan memiliki gambaran jelas mengenai destinasi yang siap menerima kunjungan pascagempa.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top