RUTENG — Dua pekan pasca gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, ratusan warga Kabupaten Manggarai masih menghuni posko pengungsian. Komandan Kodim 1612/Manggarai Letkol Arh Amos Comenius Silaban mencatat, dari sekitar 1.000 pengungsi pada awal bencana, kini tersisa kurang lebih 600 orang yang belum bisa meninggalkan posko.
Mereka adalah warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau runtuh total. Kondisi itu membuat para pengungsi belum memiliki tempat tinggal untuk kembali, sehingga seluruh kebutuhan dasar harus dipenuhi di lokasi pengungsian.
Gelombang bantuan kemanusiaan terus berdatangan. Terbaru, organisasi relawan Pendekar 08 menyerahkan 1.000 paket beras dengan total berat 5 ton kepada pengungsi di Posko Terpadu Kodim 1612/Manggarai.
Ketua Umum Pendekar 08 Ancilla Yanny Irmella menyebut, bantuan yang dibawa tidak hanya beras. Ratusan dus kebutuhan pangan, air mineral, perlengkapan keluarga, perlengkapan anak-anak, hingga peralatan ibadah dan sekolah turut diserahkan. Peralatan kebersihan dan perlengkapan memasak juga dibawa untuk mendukung operasional dapur pengungsi.
”Kami dari Pendekar 08 datang ke sini memang untuk membantu masyarakat yang terkena bencana, dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kodim 1612, dari mulai persiapan sampai dengan hari ini dari Kodim selalu ada pendampingan,” ujar Ancilla dalam keterangan resmi, Kamis (3/9).
Ancilla menambahkan, kondisi anak-anak, lansia, dan para ibu menjadi perhatian utama organisasinya. Meski penanggulangan dampak gempa telah berjalan sejak 15 Agustus lalu, proses pemulihan masih panjang dan membutuhkan uluran tangan banyak pihak.
Letkol Amos Comenius Silaban mengakui, kebutuhan dasar seperti logistik dan operasional dapur tetap menjadi prioritas selama warga tinggal di posko. ”Saat ini yang dibutuhkan masyarakat selain logistik juga menghilangkan trauma akibat bencana yang terjadi. Maka di sana dibutuhkan trauma healing dan juga kebutuhan-kebutuhan dapur sehingga dapat mengisi kegiatan atau mengisi makan baik pagi, siang dan malam,” jelasnya.
Para pengungsi yang bertahan di posko merupakan kelompok paling rentan. Mereka kehilangan tempat tinggal sekaligus mata pencaharian, sehingga ketergantungan terhadap bantuan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Penanganan pengungsi melibatkan kolaborasi lintas instansi. TNI bersama Polri, pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta organisasi relawan seperti Pendekar 08 bergerak memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Selain memenuhi kebutuhan pangan, berbagai kegiatan pendampingan dilakukan agar kehidupan sosial warga di pengungsian tetap berjalan wajar. Namun demikian, skala kebutuhan yang terus berjalan menuntut kelanjutan pasokan bantuan hingga masa pemulihan selesai.
Masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan dapat berkoordinasi dengan Posko Terpadu Kodim 1612/Manggarai di Ruteng untuk memastikan distribusi tepat sasaran. Bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah bahan pangan siap olah, air bersih, serta program trauma healing bagi anak-anak dan lansia.