Ribuan Warga Korban Gempa Flores di Manggarai Timur Butuh 3.000 Terpal Usai 12 Hari Tidur Beralas Tanah

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Jumat, 04 September 2026 | 15:47:01 WIB
Ribuan warga di tiga desa Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Flores, NTT, masih bertahan di bawah tenda darurat seadanya hingga 12 hari pascagempa.

BORONG — Ribuan warga di tiga desa di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, masih bertahan di bawah tenda darurat seadanya hingga 12 hari pascagempa magnitudo 7,7. Ledo Garia (60), warga Kampung Weleng, Desa Nampar Tabang, menjadi bagian dari mereka yang mengungsi setelah rumahnya rusak akibat guncangan pada Sabtu (15/8).

Warga di Desa Nampar Tabang, Liang Deruk, dan Golo Munga tersebar di pinggiran kampung. Sebagian bahkan sempat terpencar ke hutan untuk menyelamatkan diri dari tanah yang berguncang keras.

12 Hari Tidur di Bawah Terpal Robek

Kondisi darurat itu berlangsung lebih dari satu pekan. Ledo Garia bersama ribuan warga lain tidur beralas tanah di bawah tenda rakitan yang hanya ditutup terpal robek.

"Saya bersama ribuan warga lain sudah 12 hari warga terpaksa bertahan hidup dan tidur beralaskan tanah di bawah tenda darurat seadanya yang terbuat dari terpal robek," ujar Ledo di Tenda Pengungsian Darurat, Nampar Tabang, Rabu (26/8).

Warga lain, Subrianus Orly, mengaku ketiadaan dinding pembatas pada tenda rakitan membuat angin kencang mudah menerbangkan terpal. Warga juga kedinginan saat malam sehingga sebagian memilih bertahan sampai pagi dengan waspada karena tanah masih terasa berguncang.

"Bapak Presiden dan Bapak Kepala BNPB, tolong bantu kami. Sudah masuk 12 hari kami masih tidur di bawah terpal robek beralas tanah yang dingin. Saat ini kami mulai sakit-sakitan, mengalami flu dan demam tinggi karena setiap hari terpapar angin malam. Kami belum mendapatkan bantuan tenda darurat dari BNPB," kata Subrianus.

Akses Jalan Rusak, Bantuan Terhambat

Kesulitan warga diperparah akses ke lokasi pengungsian. Ledo Garia menjelaskan banyak desa berjauhan dan tidak bisa dijangkau kendaraan roda empat karena jalan rusak diterjang guncangan.

"Desa-desa kami sangat berjauhan dan kalua ada yang berniat membantu sedikit mengalami kesulitan karena dorang (mereka) mesti jalan kaki atau pake sepeda motor untuk kasi warga bantuan. Oto (mobil) tida bisa masuk ke sini kerna jalan rusak akibat tanah goyang keras sekali ae," tuturnya dalam dialek Manggarai.

Tim BNPB Turun, Warga Ucapkan Terima Kasih

Setelah 12 hari, kabar kondisi warga pun sampai ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ledo Garia tak kuasa menahan air mata saat tim BNPB merespons cepat dan mengunjungi tenda darurat di Kampung Weleng.

Sebanyak 18 personel BNPB turun ke beberapa lokasi untuk mendirikan tenda pengungsian yang lebih layak. Ledo mengaku kehadiran itu membawa angin segar di tengah masa sulit.

"Presiden sangat peduli kami. Terima kasih banyak, Bapak Presiden, Bapak Kepala BNPB beserta jajaran. Mori sembeng (Tuhan berkati, dalam bahasa Manggarai)," ujar Ledo dengan mata sembab.

Daftar Kebutuhan Mendesak Warga di Lamba Leda Utara

Meski bantuan beras dan bahan pangan sempat disalurkan, warga menilai stok makanan kini menipis. Mereka juga masih membutuhkan fasilitas kesehatan dan tenda yang layak sebelum kondisi semakin memburuk.

Warga Desa Nampar Tabang, Liang Deruk, dan Golo Munga mendata kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi: 3.000 unit terpal, 3.000 lembar selimut, matras, susu bayi, beras, mie instan, serta sabun mandi dan cuci.

Warga berharap Presiden Prabowo Subianto dapat mendengar keluhan ini dan meninjau langsung kondisi di lapangan agar bantuan segera tiba.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: odiyaiwuu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top