NAGEOKO — Guncangan gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 melanda wilayah pesisir sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Dalam hitungan menit, rasa aman warga berubah menjadi kecemasan saat guncangan memaksa masyarakat di sejumlah wilayah untuk segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tenggara. Peringatan tersebut keluar menyusul karakteristik gempa yang berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di pesisir.
Data BMKG mencatat adanya gelombang tsunami di beberapa titik setelah guncangan utama. Di Maurole, Kabupaten Ende, gelombang tercatat mencapai 0,94 meter. Gelombang serupa juga terdeteksi di Sikka, Labuan Bajo, Flores Timur, Dompu, dan wilayah lainnya.
Catatan ini menjadi sinyal bahwa ancaman tidak hanya berasal dari getaran tanah, tetapi juga dari potensi air laut yang naik ke daratan. Masyarakat pesisir yang sempat mengungsi kini dihadapkan pada kondisi darurat yang belum sepenuhnya pulih.
Di tengah kondisi yang belum membaik, kebutuhan dasar warga terdampak sulit terpenuhi. Keterbatasan akses logistik dan kerusakan infrastruktur menjadi kendala utama dalam proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan harian korban.
Sejumlah lembaga kemanusiaan mulai menggalang bantuan untuk meringankan beban para penyintas. Rumah Zakat mencatat dana Rp1.240.181.219 telah terkumpul dari 13.837 donatur untuk respons cepat bencana ini, dengan minimal transaksi donasi Rp50.000.
Bantuan yang masuk akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan mendesak seperti makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, serta kebutuhan logistik lainnya bagi warga yang mengungsi.
Masyarakat di pesisir NTT dan wilayah sekitarnya diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang dapat terjadi kapan saja. Meskipun peringatan dini tsunami telah dicabut di sejumlah wilayah, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat kondisi darurat yang masih berlangsung.
Proses pendataan dampak kerusakan dan jumlah pengungsi masih terus dilakukan oleh petugas gabungan di lapangan. Warga yang rumahnya rusak atau berada di zona rawan diminta untuk tidak kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman oleh otoritas setempat.