KUPANG — Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto merinci komposisi korban meninggal dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (10/9/2026). Data tersebut diperbarui dari laporan Kementerian Kesehatan yang masuk ke posko penanganan bencana.
Selain korban jiwa, gempa juga melukai 1.762 orang. Sebagian dari mereka masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan yang tersisa, sementara yang lain sudah ditangani rawat jalan di tenda darurat.
Jumlah pengungsi mencapai 60.572 orang. Mereka tersebar di titik-titik pengungsian yang didirikan di halaman kantor desa, sekolah, dan lahan terbuka.
Kebutuhan mendesak di posko pengungsian mencakup air bersih, makanan siap saji, selimut, dan layanan kesehatan dasar. Sejumlah tenda keluarga juga belum terpasang merata di semua lokasi.
Kerusakan rumah warga tercatat 98.986 unit. Rinciannya, 26.089 rumah rusak berat, 22.505 rusak sedang, dan 50.392 rusak ringan.
Rumah dengan kategori rusak berat tidak lagi layak dihuni dan penghuninya harus tetap di pengungsian sampai relokasi atau perbaikan selesai. Untuk kerusakan ringan dan sedang, sebagian warga memilih tinggal di rumah masing-masing meski dengan kondisi seadanya.
Gempa merusak 712 fasilitas pendidikan, 620 tempat ibadah, dan 157 fasilitas kesehatan. Kegiatan belajar mengajar di daerah terdampak terpaksa dialihkan ke tenda atau diliburkan sementara.
Kerusakan juga menimpa 663 unit kantor, 175 titik jalan, dan 47 fasilitas irigasi. Rusaknya irigasi berpotensi mengganggu pasokan air ke sawah warga pada musim tanam berikutnya.
BNPB menyatakan angka korban masih bergerak seiring proses pendataan di lapangan. Pembaruan dilakukan berdasarkan laporan yang masuk dari Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah terdampak.
Pemerintah daerah bersama BNPB, Basarnas, dan relawan masih melakukan evakuasi, pencarian korban, serta distribusi bantuan ke titik-titik pengungsian. Warga diminta mengikuti arahan petugas selama proses penanganan darurat berlangsung.