NUSA TENGGARA TIMUR — Angka yang dirilis China Passenger Car Association (CPCA) menegaskan tekanan yang makin berat bagi pabrikan yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal di pasar domestik China. Pangsa pasar mobil bensin kini tersisa 34,8 persen, sementara NEV mengambil porsi mayoritas.
Dari total 1,005 juta unit NEV yang terjual pada Agustus 2026, segmen battery electric vehicle (BEV) menyumbang sekitar 698 ribu unit dengan pertumbuhan 1,7 persen secara tahunan.
Sebaliknya, plug-in hybrid (PHEV) mencatatkan penurunan. Penjualannya berada di angka 307 ribu unit atau terkoreksi 25,8 persen secara tahunan, menandai tren negatif selama delapan bulan berturut-turut.
Kontras ini menunjukkan konsumen China makin condong ke kendaraan listrik murni ketimbang opsi hibrida plug-in yang masih membawa mesin bensin sebagai cadangan tenaga.
CPCA menyebut tingginya biaya operasional sebagai salah satu pemicu utama konsumen meninggalkan kendaraan konvensional. Harga rata-rata bensin RON 95 di China saat ini mencapai sekitar 8,7 yuan atau setara Rp 20 ribu per liter.
Beban bahan bakar itu makin terasa ketika kendaraan listrik menawarkan biaya pengisian daya yang jauh lebih murah, ditambah insentif pemerintah yang masih berjalan untuk adopsi NEV.
Sepanjang delapan bulan pertama 2026, total penjualan mobil penumpang di China mencapai 11,7 juta unit. Sekitar 6,7 juta unit di antaranya adalah NEV, sedangkan mobil ICE tertekan di angka 5 juta unit atau merosot 30 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Artinya, dalam skala kumulatif pun NEV sudah melampaui mobil bensin. Pasar China praktis telah melewati titik balik di mana kendaraan elektrifikasi bukan lagi alternatif, melainkan pilihan utama.
Di tengah pelemahan pasar domestik untuk tipe ICE, kinerja ekspor menopang industri otomotif China. Ekspor mobil penumpang pada Agustus 2026 menembus 888 ribu unit, tumbuh 77,8 persen secara tahunan.
Sektor ekspor NEV bahkan mencetak rekor lonjakan hingga 154,7 persen dengan total pengiriman mencapai 518 ribu unit. Angka ini menegaskan China tidak hanya mendominasi pasar listrik domestik, tetapi juga mengirim kendaraan listriknya ke pasar global dalam volume besar.
Pergeseran di China biasanya menjadi sinyal awal bagi pasar lain, termasuk Indonesia. Merek-merek China yang kini agresif memasarkan mobil listrik di Tanah Air, seperti BYD, Wuling, dan Chery, mendapat pasokan teknologi dan skala produksi dari pasar domestik yang makin matang.
Bagi konsumen Indonesia, tekanan pada mobil bensin di China bisa berarti dua hal: harga mobil listrik China makin kompetitif, sementara model bermesin konvensional dari merek global berpotensi mengalami penyesuaian strategi produksi dan harga.