iOS 27.2 Beta 2 Uji Setelan Blokir Sensor Gerak untuk Pengguna iPhone China

Penulis: Hendra Setiawan  •  Rabu, 23 September 2026 | 19:03:31 WIB
Apple menyisipkan opsi "Restrict Motion Data" pada iOS 27.2 beta 2 untuk memblokir akses aplikasi ke sensor gerak iPhone.

NUSA TENGGARA TIMUR — Apple menyisipkan opsi "Restrict Motion Data" di iOS 27.2 beta 2 yang memblokir akses aplikasi ke akselerometer dan giroskop. Fitur ini baru tersedia terbatas untuk akun App Store China daratan, diduga untuk menekan iklan "shake-to-open" yang sering memicu redirect tak diinginkan. Pengguna iPhone di luar China kemungkinan belum kebagian opsi serupa saat versi final dirilis.

Apple menguji setelan baru di iPhone yang memungkinkan pengguna memasukkan aplikasi ke daftar blokir akses sensor gerak perangkat. Perusahaan belum menjelaskan secara resmi alasan di balik fitur ini, tetapi pengguna di China menduga langkah tersebut merespons iklan "shake-to-open" yang marak di aplikasi lokal.

Iklan jenis itu muncul begitu aplikasi dibuka dan bisa terpicu hanya dengan mengangkat iPhone, berjalan, atau melewati polisi tidur di dalam mobil. Akibatnya, pengguna kerap terlempar ke halaman web atau toko aplikasi tanpa sengaja menekan apa pun.

Apa Itu "Restrict Motion Data"

Opsi ini muncul di menu Settings pada iOS 27.2 beta 2. Cara kerjanya, pengguna bisa menambahkan aplikasi tertentu ke daftar yang dilarang mengakses data akselerometer dan giroskop.

Dua komponen itu adalah sensor yang mendeteksi gerakan, kemiringan, dan percepatan perangkat. Selama ini, banyak aplikasi memanfaatkannya untuk fitur sah seperti penghitung langkah, game berbasis gerakan, atau penyesuaian orientasi layar. Namun, sebagian pengembang memakai data yang sama untuk memicu iklan saat ponsel digoyang.

Dengan setelan ini, aplikasi yang masuk daftar blokir tidak lagi bisa membaca gerakan perangkat, sehingga pemicu iklan berbasis guncangan otomatis mati.

Siapa yang Bisa Memakainya

Untuk sementara, opsi "Restrict Motion Data" hanya terkait dengan akun App Store China daratan. Apple belum memberi indikasi bahwa fitur ini akan meluas ke pengguna iPhone di wilayah lain saat iOS 27.2 dirilis dalam versi final.

Pembatasan wilayah ini masuk akal mengingat masalah iklan guncangan paling banyak dilaporkan di pasar China. Di sana, praktik "shake-to-open" sudah menjadi keluhan umum karena memaksa pengguna masuk ke halaman promosi hanya gara-gara mengangkat ponsel dari meja.

Kenapa Iklan Guncangan Jadi Masalah

Iklan "shake-to-open" bekerja dengan memanfaatkan akselerometer untuk mendeteksi gerakan kecil. Begitu ambang gerakan terlewati, aplikasi langsung membuka tautan eksternal atau memunculkan halaman iklan penuh layar.

Masalahnya, ambang itu sering terlalu sensitif. Mengambil iPhone dari saku, menggeser posisi saat menonton video, atau sekadar berjalan sambil memegang ponsel bisa cukup untuk memicu redirect. Pengguna pun kehilangan kendali atas apa yang muncul di layar.

Keluhan serupa sebenarnya juga muncul di pasar lain, termasuk Indonesia, meski skalanya tidak sebesar di China. Banyak pengguna Android dan iPhone di Tanah Air mengeluhkan iklan yang tiba-tiba terbuka saat aplikasi diluncurkan.

Kapan Fitur Ini Dirilis Stabil

iOS 27.2 masih berstatus beta, dengan beta 2 menjadi versi pengujian terbaru yang memuat opsi ini. Apple biasanya merilis versi final beberapa pekan setelah rangkaian beta selesai, tetapi belum ada tanggal resmi yang diumumkan.

Kalau pola sebelumnya jadi acuan, fitur ini kemungkinan tetap eksklusif untuk akun China daratan pada peluncuran stabilnya. Pengguna iPhone global, termasuk di Indonesia, belum tentu mendapat akses ke setelan yang sama.

Bagi pengguna yang terganggu iklan berbasis gerakan, opsi ini jelas relevan. Namun, selama Apple membatasinya ke wilayah China, pemilik iPhone di pasar lain masih harus mengandalkan pengaturan izin aplikasi yang ada atau menghapus aplikasi yang paling agresif menampilkan iklan guncangan.

Reporter: Hendra Setiawan
Sumber: macrumors.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top