NUSA TENGGARA TIMUR — Nilai tukar rupiah dibuka turun 0,47 persen atau 84 poin ke posisi Rp17.902 per dolar AS, membalik penguatan signifikan sehari sebelumnya ke Rp17.818. Pelemahan dipicu penguatan indeks dolar AS di kisaran 101,12-101,14 seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, ditambah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Data Bloomberg menunjukkan pelemahan terjadi pada pembukaan perdagangan, dengan posisi rupiah tercatat pada pukul 09.30 WIB. Pergerakan ini sudah diprakirakan analis pasar uang menyusul tekanan eksternal yang berimbas ke pasar domestik.
"Rupiah diperkirakan melemah seiring penguatan dolar AS," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Lukman menjelaskan, dolar AS menguat karena pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat. Indeks dolar AS terpantau bergerak di kisaran 101,12-101,14, mencerminkan permintaan terhadap mata uang Amerika yang meningkat.
Ekspektasi tersebut mendorong investor memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar, termasuk obligasi pemerintah AS. Arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi konsekuensi langsung dari pergeseran ini.
Faktor kedua yang membebani rupiah adalah kenaikan harga minyak mentah dunia. Lukman mencermati kenaikan dipicu keraguan Iran dalam perundingan perdamaian dengan AS.
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada neraca perdagangan Indonesia. Sebagai negara net importir minyak, biaya impas energi membengkak dan permintaan dolar AS untuk pembayaran meningkat, memperkuat tekanan jual terhadap rupiah.
Lukman memprakirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800-Rp17.950 per dolar AS sepanjang hari ini. Fluktuasi masih dipengaruhi faktor eksternal yang berimbas ke dalam negeri.
Bagi investor, rentang tersebut menjadi acuan penting untuk mengukur level entry maupun exit di instrumen berdenominasi dolar. Pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran valas perlu mencermati momentum pelemahan untuk mengunci kurs.
Pergerakan rupiah hari ini juga menjadi perhatian menjelang keputusan kebijakan moneter berikutnya. Pasar menanti sinyal dari Bank Indonesia mengenai langkah stabilisasi kurs di tengah tekanan eksternal yang masih berlanjut.