NUSA TENGGARA TIMUR — Berdasarkan data RTI pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka di level 6.688,175 dengan volume transaksi 528,594 juta saham dan nilai transaksi Rp313,161 miliar. Sebanyak 271 saham menguat, 91 saham melemah, dan 286 saham stagnan.
Pergerakan indeks dalam beberapa sesi terakhir masih terjebak di rentang 6.640–6.710. Dua katalis berlawanan menahan laju IHSG: penguatan rupiah di satu sisi, dan melonjaknya harga minyak mentah dunia di sisi lain.
Brent di USD101,82 per Barel Pagi Ini
Emitennews Market Outlook mencatat harga minyak mentah Brent pada Kamis (10/9/2026) pukul 07.05 WIB berada di level USD101,82 per barel. Setiap kenaikan USD1 per barel Brent diperkirakan menambah beban defisit APBN antara Rp6,0 triliun hingga Rp6,8 triliun.
Dengan asumsi kurs Rp17.508 per USD, harga bahan baku minyak mentah mencapai Rp11.205 per liter. Ditambah biaya refining, logistik, pajak, dan margin SPBU 12% sekitar Rp3.000–Rp5.000, harga keekonomian Pertalite dan Pertamax berada di Rp16.205 per liter.
Subsidi Pertalite Rp6.205 per Liter, Pertamax Terancam Naik
Saat ini Pertamina menjual Pertalite Rp10.000 per liter dengan subsidi Rp6.205 per liter. Sementara Pertamax dijual Rp15.950 per liter, masih di bawah harga keekonomian.
"Jika harga minyak mentah Brent bertahan di atas USD100 per barel, maka harga BBM jenis Pertamax kemungkinan akan dinaikkan lagi ke kisaran Rp16.200–Rp16.400 per liter bulan depan," tulis Edhi Pranasidhi dalam laporan tersebut.
Inflasi Agustus 3,19%, Suku Bunga Acuan Terancam Naik
Kenaikan harga BBM berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Pemerintah menargetkan inflasi 2026 di kisaran 2,5%–3,5%, sementara inflasi Agustus tercatat 3,19%.
Jika inflasi September tembus di atas 3,50%, Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan itu akan memberi tekanan tambahan pada pasar saham domestik.
Data Inflasi AS dan FOMC Jadi Katalis Berikutnya
Dari eksternal, pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat dan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Kedua agenda itu akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS.
Sejumlah analis memprediksi IHSG berpeluang menguji lagi level 6.700 jika sentimen global membaik. Namun tanpa katalis positif, indeks diprediksi masih bergerak sideways di rentang 6.640–6.710.