LABUAN BAJO – Di tengah ambisi digitalisasi pendidikan nasional, sebuah realitas pahit justru datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagi banyak siswa di pelosok Bumi Flobamora, memiliki buku tulis dan pulpen bukan sekadar urusan administrasi sekolah, melainkan perjuangan hidup yang bahkan bisa berujung tragis.
Kesaksian ini disampaikan oleh Adelfiana Hermin, guru dari SIT Poco Dedeng, Labuan Bajo, yang mengungkap bahwa insiden siswa mengakhiri hidup di Ngada akibat tak mampu membeli alat tulis hanyalah "puncak gunung es" dari masalah kemiskinan pendidikan di sana.
Meski bantuan pemerintah melalui Program Indonesia Pintar (PIP) telah tersedia, realitas di lapangan memaksa para orang tua melakukan pilihan sulit. Kebutuhan pokok yang mendesak seringkali membuat dana pendidikan dialihkan untuk bertahan hidup.
"Bantuan PIP itu ada, tetapi seringkali dialihkan untuk membeli beras karena kebutuhan makan tidak mencukupi. Akhirnya, untuk buku dan bolpoin sering terabaikan begitu saja," ungkap Adelfiana dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di Bandung, Sabtu (14/2/2026).
Kondisi Fasilitas & Tantangan Pendidikan di NTT
Berdasarkan kesaksian lapangan, berikut adalah gambaran kontras antara tuntutan kurikulum dengan fasilitas yang tersedia:
| Aspek | Realitas di Lapangan |
|---|---|
| Alat Ajar Siswa | Siswa sering tidak memiliki buku/pulpen; guru menggunakan barang bekas (gabus rusak) sebagai alat peraga. |
| Fasilitas Guru | Guru dituntut menguasai IT, namun hanya tersedia 7 laptop sekolah yang sebagian besar rusak dan harus dipakai bergantian. |
| Peran Orang Tua | Minimnya pendampingan karena orang tua harus bekerja seharian demi memenuhi kebutuhan makan. |
| Kesejahteraan | Banyak guru telah mengabdi belasan tahun sebagai honorer dengan stabilitas ekonomi yang belum mapan. |
Ketiadaan fasilitas memaksa para guru di NTT untuk memutar otak lebih keras. Adelfiana menceritakan bagaimana ia memanfaatkan alat peraga berbahan gabus yang sudah rusak untuk dikemas menjadi sebuah permainan edukatif. Hal ini dilakukan agar siswa tetap bisa mengenal huruf dan angka meskipun tanpa buku pendukung yang layak.
Selain minim fasilitas, guru di pelosok NTT juga mengemban beban moral sebagai "orang tua kedua". Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sulit, guru menjadi figur utama yang melakukan pendekatan personal kepada siswa yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua yang sibuk bekerja.
"Kami di sekolah harus menjadi figur orang tua karena di rumah mereka kurang mendapatkan pendekatan itu," tambahnya. Pengabdian ini ia jalani dengan penuh keteguhan, meski ia sendiri harus merasakan menjadi guru honorer selama 11 tahun sebelum akhirnya diangkat menjadi ASN dua tahun lalu.
Kisah dari NTT ini menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan bahwa kesenjangan pendidikan di Indonesia Timur masih nyata, dan pemenuhan kebutuhan dasar seperti alat tulis masih menjadi mimpi yang mahal bagi sebagian anak bangsa.