LARANTUKA — Tiga bangunan Sekolah Dasar (SD) di wilayah pesisir selatan Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan dalam kondisi memprihatinkan. Kerusakan bangunan ini mencakup SDK Hewa, SDI Pantai Oa, dan SDI Tabana yang hingga kini belum mendapatkan perbaikan menyeluruh.
Kerusakan tersebut terungkap saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Gugus 2 Kecamatan Wulanggitang di SDK Hewa, Sabtu (2/5/2026). Para kepala sekolah menyebut paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki menjadi penyebab utama korosi pada atap seng dan jebolnya plafon ruang kelas.
Siswa Belajar di Rumah Warga dan Bangunan Gudang
Kondisi paling ekstrem terjadi di SDI Pantai Oa. Akibat ruang kelas yang tidak layak huni, peserta didik kelas 1 dan kelas 2 terpaksa memindahkan aktivitas belajar mengajar (KBM) ke luar lingkungan sekolah. Sebagian siswa menumpang di rumah warga, sementara sisanya menggunakan gedung TKK Santo Yoseph Pantai Oa.
Ketua RT 10 RW 3 Dusun 3 Desa Pantai Oa, Fransiska Yofransia Bela, mengonfirmasi bahwa rumah salah satu warga di wilayahnya telah digunakan sebagai ruang kelas darurat sejak awal tahun ini. Lokasi tersebut dipilih karena dianggap lebih aman bagi keselamatan para siswa.
“Mereka KBM sudah cukup lama, kira-kira Januari lalu sampai sekarang. Di sini lebih aman. Kalau di sekolah ada atap dan plafon yang rusak,” ujar Fransiska saat ditemui di kediamannya, Sabtu (2/5/2026).
Situasi serupa terjadi di SDK Hewa. Pihak sekolah terpaksa menyulap bangunan perpustakaan yang dulunya berfungsi sebagai gudang menjadi ruang kelas bagi siswa kelas 1. Atap seng di sekolah ini tampak berlubang dan berkarat, mengancam kenyamanan siswa saat cuaca buruk.
BPBD Flores Timur Segera Tinjau Lokasi Kerusakan
Merespons situasi tersebut, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, Ariston K. Ola, menyatakan akan segera mengirimkan tim teknis ke wilayah selatan Wulanggitang. Peninjauan ini bertujuan untuk memetakan tingkat kerusakan di tiga sekolah tersebut.
“Kita akan turunkan tim ke lokasi untuk melihat situasi dan kondisinya. Dalam satu dua hari ini tim kami turun melihat kondisi bangunan yang rusak,” kata Ariston di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026).
Ariston menjelaskan, hasil verifikasi lapangan nantinya akan menjadi dasar koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Flores Timur. Langkah ini diambil untuk menentukan apakah perbaikan akan menggunakan skema anggaran pendidikan atau masuk dalam kategori penanganan darurat bencana.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas PKO Flores Timur, Felix Suban Hoda, belum memberikan tanggapan resmi. Saat wartawan mendatangi kantornya pada Senin pagi, yang bersangkutan dilaporkan sedang tidak berada di tempat.