MANGGARAI TIMUR — Ketua Bramasgana Umsida, Tatan Rackhen Ariaseta, melaporkan tim tiba di Reo, Manggarai Tengah sekitar pukul 02.00 WITA pada Sabtu (3/10). Setibanya di lokasi, tim menemukan sejumlah rumah warga rusak mulai tingkat sedang hingga berat. Sebagian warga juga masih tidur di tenda pengungsian karena belum merasa aman kembali ke rumah.
Pada malam kedatangan, gempa susulan berkekuatan sekitar 6,0 magnitudo masih terjadi. "Pada malam tersebut masih terjadi gempa dengan kekuatan sekitar 6,0 M," ujar Tatan.
Desa Waso, 8 Km dari Titik Gempa
Pada Ahad (4/10), tim menyisir sejumlah wilayah terdampak, salah satunya Desa Waso. Desa itu termasuk titik yang dampaknya cukup parah karena berjarak sekitar 8 km dari titik gempa.
Dampak psikologis terasa pada warga. "Berdasarkan cerita warga, rasa trauma dan takut masih muncul ketika mereka hendak kembali beraktivitas di dalam rumah," terang Tatan.
Gempa susulan yang kerap terjadi pada malam hari membuat sebagian warga beraktivitas siang hari dan menghindari rumah saat malam. Di tengah kondisi itu, Bramasgana menemui anak-anak Desa Waso dan mengajak mereka bermain sebagai ruang pemulihan. Sebagian area bermain kini beralih fungsi menjadi hunian sementara warga.
Pindah ke Pota, Bermalam di Poskorda Manggarai Timur
Setelah dua hari di Reo, tim berpindah ke Desa Pota, Manggarai Timur, pada Selasa (6/10). Tim bermalam di Poskorda Manggarai Timur selama kurang lebih tiga hari.
Di Pota, tim menemukan sejumlah rumah rusak berat. Sebagian masyarakat masih mengungsi dan belum berani pulang karena khawatir gempa susulan.
Psikososial di SD Inpres Logo dan Sekolah Dasar Lain
Pada hari kedua di Pota, Bramasgana mengunjungi SD Inpres Logo untuk kegiatan psikososial bersama anak-anak sekolah. Kegiatan dilakukan lewat permainan dan interaksi kelompok yang disesuaikan dengan kondisi anak pascabencana.
"Pada sore harinya, kami kembali melakukan aktivitas bersama anak-anak," kata Tatan.
Hari berikutnya, tim mendatangi salah satu sekolah dasar di Pota untuk kegiatan serupa.
Dijemput MDMC Jawa Timur, Lanjut ke Dusun Ronting
Pada Rabu (7/10) siang, tim dijemput MDMC Jawa Timur menuju Dusun Ronting, Manggarai Timur. Setibanya di Ronting, warga masih berada di sejumlah tempat pengungsian, dengan tanah lapang dipakai sebagai lokasi hunian sementara.
Kerusakan bangunan tergolong berat, meliputi rumah warga, masjid, sekolah, toko, hingga bangunan lain yang rusak bahkan roboh.
Sekolah Darurat Belum Optimal, Belajar Dibagi Dua Sesi
Pada Kamis (8/10) pagi, tim berkoordinasi dengan PCM setempat. Dari koordinasi dan informasi warga, sejumlah sekolah darurat mulai didirikan meski belum optimal.
Sebagian orang tua belum mengizinkan anak kembali bersekolah karena khawatir gempa susulan. Kegiatan belajar dilakukan bergantian, sekitar pukul 07.00 hingga 11.00 WITA.
Respons Muhammadiyah Berlanjut Usai Relawan Pulang
Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, menyampaikan bahwa keterlibatan Bramasgana merupakan bagian dari respons kemanusiaan Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu.
"Indonesia ini untuk menyelesaikan masalah umat tidak mungkin bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Tidak mampu. Karena itu butuh peran serta masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, respons Muhammadiyah terhadap bencana dilakukan berkelanjutan. Setelah bencana terjadi, MDMC berkonsolidasi menyambungkan berbagai kegiatan, termasuk penggalangan dan pengelolaan bantuan hingga proses pemulihan selesai.
Untuk NTT, proses itu masih berlangsung dengan sejumlah rencana lanjutan, termasuk pembangunan sekolah, tempat ibadah, dan hunian sementara. Dr Hidayatulloh menegaskan penanganan bencana bisa berlangsung jauh lebih lama dibanding masa tanggap darurat awal.
"Nah inilah Muhammadiyah yang tidak mengenal batas waktu dan ruang," tegasnya.