NUSA TENGGARA TIMUR — Sutradara dan artis dokumenter asal Amerika Serikat Lynne Sachs membawa film terbarunya, Every Contact Leaves a Trace, ke Ji.hlava Documentary Film Festival untuk pemutaran perdana di Republik Ceko. Film ini berangkat dari ratusan kartu nama lama yang ia simpan selama puluhan tahun, lalu ia lacak satu per satu untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang pernah singgah dalam hidupnya. Sachs bahkan sampai menyewa seorang detektif untuk membantu penelusuran tersebut.
Lynne Sachs sudah sering menayangkan film-film lamanya di Ji.hlava Documentary Film Festival. Tahun ini ia akhirnya hadir langsung di festival tersebut, kali ini dengan tugas berbeda: duduk sebagai juri First Lights, kompetisi yang menilai karya debut dokumenter.
Sachs mengaku terkesan dengan seleksi film Ji.hlava yang datang dari berbagai penjuru dunia dan menampilkan beragam pendekatan serta sudut pandang pembuatan film. Menurutnya, sekitar 24 film masuk dalam daftar tontonan juri.
Dari Kartu Nama Lama ke Film Detektif
Every Contact Leaves a Trace diputar di Ji.hlava sebagai pemutaran perdana di Republik Ceko. Dalam film ini, Sachs tampil jelas di layar: menyelidiki, menghubungkan petunjuk, meragukan dirinya sendiri, dan sesekali meminta bantuan keponakan yang masih muda.
Bahan penyelidikannya adalah ratusan kartu nama yang ia simpan dengan rapi selama puluhan tahun. Sebagian kartu sudah kehilangan makna baginya, tapi sebagian lain meninggalkan kesan mendalam, seperti kartu dari seorang seniman yang karyanya pernah menyentuhnya atau sesama pembuat film yang belakangan tersandung tuduhan pelanggaran.
Ada pula kartu dari seorang perempuan Suriah yang keluarganya melarang tampil di kamera untuk berbagi pengalaman sebagai pengungsi. Sachs akhirnya membuat penghormatan untuk kemampuan memasak perempuan tersebut sebagai jalan tengah.
Menyewa Detektif dan Etika di Balik Kamera
Penelusuran Sachs berlangsung seperti kisah detektif sungguhan. Ia bahkan mengaku sampai menyewa seorang detektif untuk membantu menemukan orang-orang yang namanya masih tersisa di kotak kartu namanya.
"Saya sebenarnya menyewa detektif pada satu titik," kata Sachs.
Ia juga mempertanyakan istilah yang lazim dipakai untuk orang-orang yang muncul dalam film dokumenter. Daripada menyebut mereka "protagonis" atau "karakter", Sachs lebih memilih "partisipan di depan kamera" atau "kolaborator yang terlihat, yaitu orang-orang yang berada di depan kamera".
"Kita diberi kesempatan untuk menceritakan kisah kita oleh orang di balik kamera. Yang tidak saya tahu adalah, siapa orang di balik kamera itu?" ujarnya.
Rekonstruksi Kisah Hidup dari Jejak Pertemuan
Sachs menyebut film ini sebagai upaya merekonstruksi kisah hidup dari interaksi yang pernah ia alami dengan orang-orang yang meninggalkan jejak. Ia mengaku paling tertarik pada kartu-kartu yang menghadirkan rintangan terbesar untuk dilacak.
Sejak film beredar, sejumlah orang menawarkan koleksi kartu nama lama mereka sendiri kepada Sachs. Ia menolaknya dengan bercanda, karena setiap kumpulan kartu hanya merujuk pada satu pemilik, lengkap dengan kenangan atas dokter gigi, psikoanalis, atau calon teman yang ditemui di bus.
Proses mengingat pertemuan masa lalu, kata Sachs, penuh jebakan. Pikiran manusia cenderung mengedit kenangan, dan tidak selalu kita yang memilih memori mana yang bertahan atau hilang.
Dari pekerjaan detektif dokumenternya, Sachs belajar bahwa ia tak perlu terbang melintasi zona waktu untuk menemukan seseorang yang mungkin bahkan tidak mengingatnya. "Saya tidak perlu membuktikan saya pernah atau tidak," katanya. "Saya perlu menghadapi residunya."
Every Contact Leaves a Trace memperkuat posisi Sachs sebagai dokumenteris yang konsisten mempertanyakan relasi antara pembuat film dan subjeknya, tema yang belakangan makin sering dibahas di lingkaran festival dokumenter internasional.