SIKKA — Aturan itu berlaku sejak urusan rambut. Perempuan muda yang belum menikah dan belum dinyatakan dewasa oleh keluarganya hanya boleh menata gelung atau "lenggen" di bagian tengah kepala. Setelah menjalani prosesi "Lenggenana", barulah gelung boleh dinaikkan hingga atas kepala.
Ketentuan tersebut tercatat dalam laporan She Radio FM bertajuk "5 Fakta Wanita Sikka" yang diterbitkan pada 2011. Tata rambut menjadi penanda kesiapan seorang perempuan memasuki kehidupan berumah tangga.
Bagian terpenting dari aturan berpakaian perempuan Bliran Sina adalah kain tenun ikat. "Utan" adalah kain sarung yang dikenakan sebagai bawahan, dipadukan dengan "Labu" sebagai atasan tradisional, dan "Dong" sebagai selendang yang melintang di dada.
Ketiga unsur itu membentuk perpaduan busana yang memperlihatkan tahapan kehidupan seorang perempuan. Motif kain tenun ikat pun punya filosofi masing-masing, dengan pengaruh Portugis yang masih terlihat hingga kini.
Ukuran panjang lengan atasan dan jumlah lapis bawahan yang dikenakan turut menentukan tahapan kehidupan serta status sosial pemakainya. Kain dengan motif tertentu tidak bisa dibeli begitu saja dengan uang; pemakaiannya harus menunggu usia yang ditentukan.
Aksesori di Bliran Sina berfungsi lebih dari penghias penampilan. Jumlah perhiasan yang dikenakan seorang perempuan menjadi penentu tahapan kehidupan dan status mereka, sejalan dengan ketentuan penataan rambut.
Perhiasan yang dipakai bisa berbeda antar keluarga, tergantung kebiasaan, ketersediaan bahan, dan kebutuhan acara. Karena itu, tidak semua aksesori dikenakan dalam setiap kesempatan.
Bliran Sina dikenal sebagai sanggar budaya di Watublapi yang berperan menjaga tradisi tenun ikat di Sikka. Sanggar ini berangkat dari kesadaran bahwa perempuan memegang peran penting dalam proses menenun.
Peran itu mulai dari mempertahankan keterampilan yang diwariskan antargenerasi hingga memperkenalkan kain tradisional kepada masyarakat luas. Kegiatan menenun dan penggunaan busana tradisional yang masih dilestarikan menjadi buktinya.
Melalui praktik tersebut, perempuan Bliran Sina tidak hanya tampil sebagai pemakai busana adat. Mereka adalah pelaku utama yang merawat warisan budaya Sikka agar tetap hidup.