NUSA TENGGARA TIMUR — Uji benchmark sintetis membuktikan iPhone Duo bukan sekadar foldable mahal tanpa performa — chip A20 Pro di dalamnya mampu menyaingi iPhone 18 Pro Max dengan selisih di bawah 1,5 persen. Di kelas foldable, ponsel ini meninggalkan Galaxy Z Fold 8 Ultra dan Pixel 11 Pro Fold dengan jarak yang cukup jauh, terutama di sektor grafis. Tapi ada satu catatan: di pengujian AI, kompetitor berbasis Qualcomm justru masih sedikit unggul.
Pengujian dilakukan memakai beberapa tool standar: Geekbench 6 dan 7 untuk CPU, 3DMark Solar Bay Unlimited untuk grafis, serta Geekbench AI 1.7 untuk beban machine learning. iPhone Duo membawa chip yang sama dengan iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max, jadi pertanyaannya bukan soal apakah performanya kencang, melainkan seberapa besar kompromi yang harus dibayar karena bodi lipat.
Di Geekbench 6, iPhone Duo mencatat skor single-core 4.722 dan multi-core 12.708. Angka itu memang di bawah kedua saudaranya, tapi jaraknya tipis sekali — kurang dari 20 poin di single-core dan di bawah 100 poin di multi-core.
Artinya, untuk membuka aplikasi, berpindah antar jendela, atau menjalankan dua app berdampingan di layar utama 7,8 inci, tidak ada perbedaan yang bisa dirasakan pengguna awam. Skor Geekbench 7 juga konsisten: 4.007 single-core dan 11.363 multi-core, masih dalam radius yang sama dengan iPhone 18 Pro.
Yang lebih menarik, tidak ada satu pun foldable pesaing yang menembus 4.000 poin di single-core. Galaxy Z Fold 8 Ultra berhenti di 3.733, sementara Pixel 11 Pro Fold tertinggal jauh di 2.687 — selisih hampir 2.000 poin dari iPhone Duo.
Di pengujian grafis, jarak antar-merk jadi lebih jelas. iPhone Duo mencetak rata-rata 62,3 fps dengan skor 16.496, persis di antara iPhone 18 Pro (61,93 fps) dan 18 Pro Max (67,9 fps).
Bandingkan dengan kubu Android: Galaxy Z Fold 8 Ultra hanya 49,24 fps, Z Fold 8 di 47,35 fps, dan Motorola Razr Fold terpuruk di 34,65 fps. Tidak ada pesaing yang menyentuh angka 50 fps. Terhadap Z Fold 8, keunggulan GPU iPhone Duo mencapai sekitar 32 persen — selisih yang besar untuk urusan gaming mobile.
Untuk pengguna awam, angka ini berarti game dengan pengaturan grafis tinggi masih berjalan mulus tanpa frame drop berarti, bahkan di layar lipat berukuran besar. Catatan pentingnya: pengujian ini tidak mengukur seberapa cepat perangkat menurunkan performa saat panas menumpuk — hal yang justru sering jadi masalah di bodi foldable yang ruang pendinginnya lebih sempit.
Beban on-device AI jadi satu-satunya area di mana iPhone Duo tidak memimpin. Skor 69.438 di Geekbench AI 1.7 menempatkannya di antara 18 Pro (69.245) dan 18 Pro Max (71.974), tapi Galaxy Z Fold 8 Ultra dan Z Fold 8 justru mencatat angka lebih tinggi — 71.715 dan 72.242.
Selisihnya sekitar 3 sampai 4 persen, jadi dalam pemakaian harian nyaris tidak terasa. Namun tetap perlu dicatat: klaim "tercepat di segala lini" tidak sepenuhnya berlaku di sini. Motorola Razr Fold (59.663) dan Pixel 11 Pro Fold yang skornya hanya 9,92 tetap jauh di bawah.
Hasil benchmark ini menjawab satu kekhawatiran lama soal foldable: bahwa bodi lipat selalu berarti kompromi performa. Di kasus iPhone Duo, kompromi itu praktis hilang — chip 2 nanometer A20 Pro bekerja hampir setara dengan versi slab-nya.
Yang belum terjawab justru hal-hal yang tidak terlihat di grafik benchmark: ketahanan engsel setelah pemakaian berbulan-bulan, konsumsi baterai saat layar besar dipakai multitasking, dan bagaimana perangkat menangani panas saat sesi gaming panjang. Skor sintetis bagus tidak otomatis berarti pengalaman jangka panjangnya mulus.
Untuk sekarang, angka-angka ini cukup untuk menyimpulkan bahwa iPhone Duo adalah foldable dengan performa mentah tertinggi di pasarnya. Pesaing seperti Samsung, Google, dan Motorola punya pekerjaan rumah jelas: mengejar ketertinggalan di sektor GPU sebelum generasi foldable berikutnya dirilis.