LPG 12 Kg Langka di 5 Kabupaten NTT, SPPG Program Makan Bergizi Gratis Berhenti Beroperasi

Penulis: Jauhari Lubis  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 19:43:01 WIB
Kelangkaan LPG 12 kg menyebabkan penghentian operasional SPPG di lima kabupaten/kota NTT.

KUPANG — Badan Gizi Nasional (BGN) mengonfirmasi bahwa operasional SPPG di Kabupaten Manggarai, Timor Tengah Utara (TTU), Kota Kupang, Belu, dan Sumba Barat terhenti sementara. Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Dadang Hendrayudha menyatakan penghentian pertama terjadi di Manggarai pada 8 Mei 2026.

"Kelangkaan gas LPG 12 kilogram memengaruhi operasional SPPG di lapangan sehingga beberapa layanan belum dapat berjalan normal sampai pasokan kembali tersedia," ujar Dadang di Jakarta, Rabu (13/5).

SPPG di Manggarai Jadi yang Pertama Terhenti

Menurut Dadang, penghentian operasional di Manggarai menjadi sinyal awal krisis. Sejumlah SPPG di wilayah itu tidak bisa melanjutkan produksi makanan karena pasokan gas habis. Aktivitas masak massal untuk MBG bergantung penuh pada LPG 12 kg.

Dari Manggarai, dampak merambat ke daerah lain pada 11 hingga 12 Mei 2026. Empat wilayah tambahan—TTU, Kota Kupang, Belu, dan Sumba Barat—ikut menghentikan layanan. Total, lima kabupaten/kota di NTT kini tanpa pasokan MBG.

Mengapa LPG 12 Kg Jadi Tulang Punggung MBG?

Sebagian besar SPPG menggunakan LPG 12 kg untuk memasak dalam skala besar setiap hari. Tanpa gas, dapur SPPG tidak bisa beroperasi. Kelangkaan ini membuat rantai distribusi makanan putus di titik produksi.

BGN saat ini memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait. "Kami pastikan distribusi gas kembali normal agar operasional SPPG segera berjalan," kata Dadang. Belum ada kepastian kapan pasokan akan pulih.

Apa Dampaknya bagi Penerima Manfaat?

Penghentian operasional SPPG berarti ribuan penerima manfaat—siswa, ibu hamil, dan balita—kehilangan akses makanan bergizi gratis. Program MBG dirancang untuk menekan angka stunting dan malnutrisi di NTT, salah satu provinsi dengan prevalensi gizi buruk tertinggi nasional.

Belum ada laporan resmi mengenai jumlah pasti penerima yang terdampak. Namun, dengan lima wilayah terdampak, angka sasaran dipastikan signifikan. Warga di daerah terpencil seperti Manggarai dan Sumba Barat paling rentan karena akses pangan alternatif terbatas.

Langkah Pemerintah: Koordinasi, Bukan Solusi Cepat?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan dari Pertamina atau pemerintah daerah NTT mengenai penyebab kelangkaan LPG 12 kg. BGN hanya menyebut koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait terus berjalan.

Di sisi lain, penghentian MBG memicu kekhawatiran di kalangan orang tua siswa. Sejumlah warga di Kupang mengeluhkan layanan yang tiba-tiba berhenti tanpa pemberitahuan. "Anak saya sudah dua hari tidak dapat makanan dari sekolah," ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.

BGN berjanji akan memperbarui informasi begitu ada perkembangan. Namun, tanpa pasokan gas yang stabil, program MBG di NTT dipastikan belum bisa berjalan normal dalam waktu dekat.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top