KUPANG — Angin monsun timur yang menandai puncak musim kemarau di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menunjukkan dampaknya. BMKG mengeluarkan peringatan dini terhadap potensi angin kencang yang diperkirakan terjadi di empat wilayah, Jumat (3/7/2026).
Prakirawan Cuaca BMKG, Frengki Arianto Faot, menjelaskan bahwa angin monsun timur yang aktif membuat udara menjadi lebih kering dan meningkatkan kecepatan angin secara signifikan. Wilayah yang masuk dalam zona peringatan meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.
“Kondisi tersebut menyebabkan udara menjadi lebih kering dan meningkatkan kecepatan angin di sejumlah daerah,” kata Frengki di Kupang, Kamis (2/7/2026).
Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi pohon tumbang dan benda-benda ringan yang mudah diterbangkan angin. Pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua, diminta lebih berhati-hati saat melintasi area dengan pepohonan rindang atau bangunan tidak kokoh.
Dampak angin kencang tidak hanya dirasakan di darat. BMKG secara khusus menyoroti risiko tinggi bagi nelayan dan pengguna transportasi laut. Kecepatan angin yang meningkat dapat memicu gelombang tinggi di sejumlah perairan NTT.
“Nelayan dan pengguna transportasi laut juga diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca sebelum berlayar,” ucap Frengki.
Peringatan ini menjadi krusial mengingat musim kemarau sering kali dianggap sebagai waktu yang aman untuk melaut, padahal monsun timur justru membawa angin kencang yang membahayakan kapal-kapal kecil.
Selain gangguan aktivitas harian, BMKG mengingatkan bahwa angin kering ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Frengki mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, seperti membakar sampah atau membuka lahan pertanian dengan cara dibakar.
“Dalam peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, tidak terdapat wilayah di NTT yang berstatus Waspada, Siaga, maupun Awas terhadap potensi hujan sedang hingga hujan ekstrem pada 3 Juli 2026,” jelasnya. Kondisi ini menegaskan bahwa sebagian besar wilayah NTT saat ini didominasi oleh musim kemarau yang kering dan berangin.
Frengki mendorong masyarakat untuk terus mengakses informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG. Kewaspadaan terhadap dampak angin kencang dan musim kemarau diharapkan dapat meminimalkan risiko bencana serta melindungi keselamatan masyarakat.
BMKG juga mengingatkan bahwa meskipun tidak ada status siaga bencana, angin kencang tetap berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran, pertanian, dan transportasi darat di keempat wilayah tersebut.