KUPANG — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur melaporkan keyakinan konsumen di wilayahnya tetap kuat pada Juli 2026. Berdasarkan survei terhadap 100 responden di Kota Kupang, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 118,00 atau masih berada di atas level optimis 100.
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT Adidoyo Prakoso mengatakan, meski mengalami moderasi dari bulan sebelumnya, indeks ini sejalan dengan tren nasional. IKK Nasional pada Juli 2026 juga tercatat solid di angka 116,8, walaupun turun tipis dari posisi 117,8 pada Juni 2026.
Perlambatan tipis ini terutama dipengaruhi oleh Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) yang termoderasi ke level 111,00 dari 117,33 pada Juni lalu. Adidoyo menjelaskan, penurunan tersebut utamanya berasal dari persepsi responden terhadap penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja.
“Moderasi IKE utamanya didorong oleh mayoritas komponen pembentuknya, yaitu persepsi terhadap penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja, di tengah perbaikan pada komponen konsumsi durable goods,” ujarnya di Kupang, Rabu.
Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang menggambarkan optimisme enam bulan ke depan masih tercatat tinggi di angka 125,00. Meski turun dari 131,33 pada Juni 2026, konsumen NTT masih yakin kegiatan usaha, penghasilan, dan lapangan kerja akan membaik.
Survei BI juga mengungkap pola alokasi penghasilan rumah tangga di NTT. Sebanyak 60,60 persen dari total penghasilan responden pada Juli 2026 digunakan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Alokasi terbesar kedua adalah tabungan dengan porsi 25,10 persen, disusul pembayaran cicilan atau pinjaman yang hanya menyerap 14,30 persen dari penghasilan.
“Perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa ruang konsumsi dan kemampuan menabung rumah tangga tetap terjaga, dengan beban pembayaran cicilan yang relatif lebih rendah,” kata Adidoyo.
Rendahnya porsi cicilan ini menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat ke depan. Dengan beban utang yang terkendali, ruang fiskal rumah tangga untuk belanja dan menabung dinilai masih longgar, sehingga roda ekonomi lokal dapat terus berputar.