KUPANG — Puluhan peserta dari lintas satuan kerja dan lembaga keagamaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menyusuri pesisir Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang, sambil memungut sampah yang berserakan. Aksi ini digagas Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi NTT sebagai bagian dari penguatan ekoteologi, yakni penerapan nilai-nilai keagamaan dalam tindakan nyata menjaga kelestarian alam.
Kepala Kanwil Kemenag Provinsi NTT Fransiskus Kariyanto menyebut kegiatan ini bukan seremonial belaka. Menurutnya, ekoteologi harus hadir dalam aksi konkret, bukan berhenti sebagai gagasan.
“Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai sebuah gagasan atau wacana. Ia harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika kita memungut sampah, menjaga pantai, dan merawat lingkungan, sesungguhnya kita sedang mewujudkan tanggung jawab kita sebagai manusia yang dipercayakan untuk menjaga ciptaan Tuhan,” kata Fransiskus di Kupang, Rabu.
Manusia Bagian dari Alam, Bukan Penguasa
Fransiskus menjelaskan, gerakan kebersihan ini digelar untuk menyongsong HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa merawat lingkungan adalah tugas bersama. Ia menekankan bahwa manusia tidak berdiri di luar alam, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan.
“Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan bukan hanya untuk kepentingan kita hari ini. Apa yang kita lakukan sekarang merupakan bentuk tanggung jawab kepada generasi yang akan datang. Kita ingin meninggalkan lingkungan yang lebih baik, bukan mewariskan persoalan lingkungan kepada anak-anak kita,” ujarnya.
Sampah Langsung Ditampung ke Bak Portabel
Dalam kegiatan tersebut, para peserta memungut berbagai jenis sampah yang ditemukan di sepanjang kawasan pesisir. Sampah yang terkumpul tidak ditimbang secara khusus karena seluruh hasil pembersihan langsung dimasukkan ke dalam bak sampah portabel yang telah disediakan di lokasi.
Keterlibatan berbagai elemen dalam aksi ini dinilai menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan ruang bersama yang mampu mempertemukan banyak pihak, tanpa memandang perbedaan latar belakang kelembagaan maupun agama.
Menjadikan Ekoteologi sebagai Budaya
Fransiskus berharap gerakan ini tidak berhenti pada satu hari saja. Ia mendorong agar kesadaran menjaga kebersihan terus tumbuh di mana pun warga berada, tidak hanya saat ada acara resmi.
“Kita ingin gerakan ini menjadi budaya. Bukan hanya hari ini kita membersihkan pantai, tetapi setelah kegiatan ini kita tetap memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan di manapun kita berada. Ekoteologi harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari tindakan-tindakan sederhana dan dilakukan secara konsisten,” tegasnya.
Aksi bersih pantai ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah di kawasan pesisir tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. Dibutuhkan partisipasi aktif warga dan kolaborasi lintas sektor agar pesisir Kupang tetap bersih dan lestari.