KUPANG — Robertus Fahik, Relawan Literasi Kota Kupang, dan Polikarpus Do, Ketua Literasi NTT, tengah berkoordinasi dengan relawan di Flores untuk menyiapkan ruang literasi bagi anak-anak penyintas gempa. Mereka menilai pemulihan pascabencana tidak hanya diukur dari rumah atau fasilitas umum yang berdiri kembali, tetapi juga keberlanjutan tumbuh kembang anak.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 orang luka-luka. Kerusakan parah terjadi di Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Sikka, dan Ende.
Robertus menyebut relawan di luar wilayah terdampak terus berkoordinasi dengan tim di lapangan. Dukungan diberikan sesuai kebutuhan, tidak hanya makanan, pakaian, dan layanan kesehatan, tetapi juga pendampingan psikososial melalui aktivitas membaca dan bermain.
"Kami sudah koordinasi. Ada teman-teman relawan di Flores yang bergerak langsung, sedangkan kami di luar Flores memberikan donasi dari jauh, dari tempat masing-masing sesuai kebutuhan di sana," kata Robertus kepada media, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, ruang literasi menjadi tempat anak-anak membaca, belajar, bermain, sekaligus memperoleh pendampingan. "Saya kira kita bisa membuka ruang literasi bagi anak-anak korban gempa di sana. Kegiatan ini penting agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca, belajar, bermain, dan mendapatkan pendampingan di tengah situasi pascagempa," ujarnya.
Polikarpus Do menyebut pihaknya sedang mengoordinasikan gerakan ini dengan pegiat literasi di Flores. Ia menegaskan gerakan literasi di lokasi bencana tidak menggantikan bantuan kebutuhan dasar, melainkan melengkapinya.
"Kita sedang koordinasi dengan teman-teman pegiat literasi di wilayah Flores umumnya untuk segera bergerak," kata Polikarpus.
Ia berharap kegiatan ini berjalan secara gotong royong, melibatkan pegiat literasi dari berbagai daerah. "Kami berharap dapat membuka ruang literasi bagi anak-anak korban gempa di sana. Kegiatan ini kiranya bisa melibatkan para pegiat literasi, sehingga selain bantuan kebutuhan dasar, anak-anak tetap mendapatkan pendampingan membaca, bermain, belajar, dan dukungan psikososial melalui kegiatan literasi," ujarnya.
Buku, permainan, aktivitas belajar, dan interaksi dengan relawan di ruang sederhana itu diharapkan menjadi bagian dari upaya mengembalikan suasana kehidupan anak-anak secara perlahan. Langkah ini dinilai krusial agar proses pendidikan dan perkembangan anak tidak terputus akibat bencana.
Dengan demikian, bantuan pascagempa di Flores tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik semata. Kehadiran ruang belajar dan bermain menjadi jembatan bagi anak-anak untuk kembali merasakan normalitas di tengah situasi darurat. Para pegiat literasi berharap inisiatif ini mendapat dukungan luas dari berbagai pihak. (goe)