KUPANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memastikan pendataan kerusakan rumah akibat gempa Flores terus dimutakhirkan hingga Selasa (18/8) pukul 09.00 WITA. Angka sementara yang dihimpun dari delapan kabupaten menunjukkan 19.297 unit rumah terdampak, dengan rincian 6.463 unit rusak berat, 2.481 unit rusak sedang, dan 12.006 unit rusak ringan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Mahadin Sibarani, menyebut data ini masih akan berubah seiring verifikasi lapangan yang berjalan. “Data kerusakan rumah ini merupakan hasil pendataan sementara dan masih dapat berubah sesuai hasil verifikasi di lapangan,” ujarnya di Kupang, Selasa.
Manggarai Timur Terparah, Sumba Timur Paling Minim
Kabupaten Manggarai Timur mencatatkan angka kerusakan tertinggi dengan 7.480 unit rumah terdampak. Namun, BPBD belum merinci pembagian kategori rusak berat, sedang, dan ringan untuk wilayah tersebut karena pendataan masih berlangsung.
Disusul Manggarai Barat dengan 3.493 rumah rusak, terdiri atas 1.410 unit rusak berat, 635 unit rusak sedang, dan 1.448 unit rusak ringan. Sementara di Kabupaten Manggarai, tercatat 1.983 rumah terdampak dengan dominasi kategori rusak berat mencapai 1.597 unit.
Di sisi lain, Kabupaten Nagekeo melaporkan 2.862 rumah rusak, dengan 1.373 unit di antaranya masuk kategori rusak berat. Adapun Sumba Timur menjadi wilayah dengan dampak paling kecil, hanya lima rumah rusak ringan yang tercatat.
Pendataan Kunci Penentu Bantuan dan Perbaikan Rumah
Mahadin menegaskan akurasi pendataan menjadi fondasi penting dalam penanganan pascabencana. Data ini akan menentukan kebutuhan bantuan, skema perbaikan rumah warga, hingga pemulihan fasilitas pelayanan publik yang terdampak.
BPBD Provinsi NTT berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk mempercepat pemutakhiran data. “Yang paling penting adalah memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terdata dengan baik sehingga proses penanganan dan pemulihan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” kata Mahadin.
Gempa berkekuatan M7,7 yang berpusat di Laut Flores tersebut tidak hanya merusak ribuan hunian, tetapi juga memaksa sebagian objek wisata utama di NTT ditutup sementara. Sejumlah instansi, termasuk Kementerian Agama dan BMKG, turun melakukan pendataan kerusakan rumah ibadah serta survei makroseismik di wilayah terdampak.