ENDE — Dinas Pendidikan Kabupaten Ende mencatat 65 sekolah dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengalami kerusakan pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang berpusat di Pulau Flores. Kerusakan terparah terjadi pada 12 sekolah yang masuk kategori rusak berat.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ende, Venantius Minggu, merinci kerusakan tersebut bervariasi. "Rusak ringan sebanyak enam sekolah, rusak sedang 24 sekolah dan rusak berat sebanyak 12 sekolah," ungkapnya, Selasa (18/8).
Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda telah mengeluarkan instruksi resmi terkait pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik. Kebijakan ini berlaku selama 10 hari, terhitung sejak 18 hingga 28 Agustus 2026, dan menyasar seluruh jenjang pendidikan di wilayah terdampak.
Venantius menegaskan bahwa kebijakan ini bukanlah libur, melainkan mekanisme belajar dari rumah. "Ini bukan libur tetapi belajar dari rumah," ujarnya.
Selama masa belajar dari rumah, para guru diwajibkan memberikan penugasan, materi, dan evaluasi kepada siswa. Proses pembelajaran dapat dilakukan secara daring jika memungkinkan di masing-masing sekolah.
Dinas Pendidikan meminta para orangtua untuk aktif mendampingi anak-anak mereka selama proses belajar dari rumah berlangsung. Pendampingan ini dinilai penting untuk memastikan efektivitas pembelajaran di tengah kondisi darurat.
Sekolah juga dilarang mengadakan kegiatan yang mengumpulkan peserta didik selama masa tanggap bencana ini. Larangan tersebut dikeluarkan untuk mengantisipasi risiko keselamatan anak-anak apabila terjadi gempa susulan.
Venantius mengimbau seluruh peserta didik dan orangtua untuk tetap hati-hati dan waspada terhadap potensi gempa susulan. Hingga Rabu (19/8), guncangan gempa masih terus dirasakan di Kabupaten Ende.