RUTENG — Berry Bambar terbaring lemah di atas tempat tidur dalam tenda darurat yang beralih fungsi menjadi ruang rawat sementara di halaman RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, Selasa (25/8) pagi. Ayah dan ibunya, Ponsianus Sedo dan Bernadeta Tini, bergantian mengusap kepala dan tangan pemuda 18 tahun itu yang baru saja selesai menjalani operasi.
Mahasiswa baru Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng ini menjadi korban saat bertugas sebagai relawan Tim Respons Cepat Gempa Flores. Ia tertimpa pohon besar yang kering dan miring akibat gempa saat hendak melanjutkan perjalanan menyalurkan donasi ke puluhan rumah warga di Ling, Desa Golo Cador.
Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 16.30 Wita. Berry bersama lima rekannya baru saja menuntaskan penyerahan bantuan di rumah ketiga dari 27 rumah yang menjadi target distribusi. Saat itulah pohon besar tumbang tanpa peringatan.
"Semua serba tiba-tiba, karena kami sedang siap menyalakan mesin sepeda motor," ujar Ebertus Ngera Sega, koordinator relawan di desa tersebut.
Menurut Yohanes Fransiskus Naring, salah satu relawan, mereka sebenarnya sempat menunda keberangkatan dari Timung sejak pukul 14.00 Wita karena menunggu angin kencang reda. Namun posisi Berry yang lebih dulu menyalakan mesin motor membuatnya tak sempat menghindar.
"Posisinya membelakangi pohon yang tumbang, jadi dia tidak bisa berlari secepat kami. Dia langsung pingsan dan tidak merespons panggilan kami," kata Yohanes.
Berry sempat ditangani dua orang bidan desa di sebuah kios dekat lokasi kejadian. Ia diberikan teh hangat dan tensi darahnya diukur sebelum akhirnya dievakuasi ke RSUD Ruteng dalam keadaan belum sadar.
Jalur utama menuju Ruteng yang rusak parah akibat gempa memaksa rombongan menempuh jalur alternatif ke arah barat melalui Desa Poco, lintas Reo-Ruteng. Perjalanan darurat itu ditempuh dengan kondisi medis Berry yang masih kritis.
Hasil foto rontgen menunjukkan tulang lengan kiri Berry patah hampir terpisah satu sama lain. Bagian tubuh lain hanya mengalami lecet di kedua lengan, paha, hingga kaki.
"Dokter sudah beri tahu bahwa tulang lengannya harus segera dioperasi supaya dampaknya tidak sampai mengenai bagian-bagian saraf," ucap Bernadeta, ibunda Berry, sembari memegang tangan anaknya.
Pukul 15.10 Wita, Berry diantar menggunakan mobil ambulans menuju ruang operasi sementara di lapangan sisi barat Bandar Udara Frans Sales Lega, sekitar tiga kilometer dari RSUD Ruteng. Delapan tenaga medis, termasuk dokter ortopedi, menangani operasi yang berlangsung hingga pukul 18.15 Wita.
Pasca operasi, Berry kembali dirawat di tenda darurat RSUD Ruteng. Kondisi ruang rawat inap yang lumpuh akibat gempa memaksa rumah sakit memindahkan pelayanan ke tenda-tenda darurat di jalan raya depan fasilitas kesehatan tersebut.
Bantuan yang diantar Berry dan lima relawan lainnya berasal dari dana sumbangan publik yang digagas Tim Respons Cepat Gempa Flores, terdiri atas Floresa dan Sunspirit for Justice and Peace. Hingga hari ini, tim telah mengumpulkan donasi lebih dari Rp800 juta dengan realisasi pengeluaran Rp773.753.500 atau 91,43 persen.
Dana tersebut disalurkan untuk pengadaan sembako, terpal, dan perlengkapan tidur bagi warga di 131 titik pada 96 desa dan kelurahan di tujuh kabupaten sepanjang Pulau Flores.
Ponsianus, ayah Berry, mengaku tidak keberatan saat anaknya memutuskan menjadi relawan meski rumah mereka sendiri juga terdampak gempa. Ia justru bangga karena Berry memang sudah terbiasa terlibat dalam aksi sosial, terutama yang digalakkan kelompok Orang Muda Katolik di wilayahnya.
"Saya sama sekali tidak tahu kejadian ini, bahkan hingga anak saya sudah diantar sampai ke Ruteng. Saya sedang bekerja memotong kayu di kampung tetangga," kata Ponsianus yang berprofesi sebagai operator mesin chainsaw.
Ryan Dagur, Pemimpin Umum Floresa, menyatakan tim bersolidaritas penuh dengan Berry dan keluarga. "Kami kaget saat mendengar peristiwa itu dan segera bergerak memastikan ia bisa mendapat pertolongan cepat," tuturnya.