Seorang lansia asal Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanis Riba (75), dievakuasi menggunakan helikopter oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ke RSUD TC Hillers Maumere. Korban mengalami cedera serius dan memar pada kedua kakinya setelah tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut lebih dari sepekan lalu.
MAUMERE — Proses evakuasi medis udara ini berlangsung pada Minggu (23/8), ketika helikopter yang disiagakan BNPB bersama Polri terbang langsung dari Pos Pendamping Nasional (Pospenas) di Bandara Frans Seda, Maumere, menuju Pulau Palue. Yohanis sebelumnya sempat menjalani perawatan awal di fasilitas kesehatan setempat, namun kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit dengan sarana lebih memadai.
Sinergi Lintas Sektor untuk Warga Kepulauan Terpencil
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa evakuasi ini merupakan bagian dari komitmen penanganan darurat yang inklusif. Hal ini dinilai krusial, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan dan terpencil seperti Pulau Palue.
"Evakuasi dilakukan dengan mengedepankan kecepatan dan keselamatan pasien agar penyintas mendapatkan perawatan medis yang lebih optimal," kata Berton di Jakarta, Senin.
Yohanis diketahui merupakan warga Desa Nitunhlea, Kecamatan Palue. Ia mengalami cedera saat berusaha menyelamatkan diri dari guncangan gempa dahsyat yang meluluhlantakkan sebagian bangunan di pulau tersebut.
Perawatan Intensif di RSUD TC Hillers Maumere
Setibanya di Maumere, Yohanis langsung dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan intensif dari tim medis spesialis. Langkah ini diambil guna memastikan pemulihan korban berjalan optimal setelah melalui proses evakuasi yang menempuh jarak antarpulau.
BNPB memastikan sinergi lintas sektor antara BNPB, TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan relawan akan terus diperkuat. Hal ini untuk menjamin seluruh kebutuhan masyarakat terdampak bencana dapat tertangani secara cepat, tepat, dan manusiawi.
"Semangat gotong royong menjadi kekuatan bersama untuk membantu para penyintas melewati masa sulit dan secara bertahap kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik," demikian Berton.