RUTENG — Warga Kabupaten Manggarai Barat kembali berhamburan keluar rumah setelah gempa susulan M 5,0 mengguncang wilayah tersebut pada Selasa malam. Peristiwa itu terjadi hanya sepuluh hari setelah gempa dahsyat M 7,7 yang merenggut ratusan nyawa di Pulau Flores.
“Guncangan terasa sekali. Kami lari dari rumah,” ujar Rikar, seorang warga Manggarai Barat, Selasa (25/8/2026) malam.
Rikar diketahui baru saja kembali ke rumahnya pada Selasa malam setelah sebelumnya mengungsi di tenda darurat selama beberapa hari. Gempa susulan kali ini memaksanya kembali keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan laporan BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 7,97° Lintang Selatan dan 120,75° Bujur Timur. Kedalaman pusat gempa tercatat 10 kilometer, dan lokasinya berada di laut, sekitar 79 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai.
Getaran tidak hanya dirasakan di Manggarai Barat. Wilayah lain seperti Manggarai, Manggarai Timur, hingga Nagekeo juga merasakan guncangan dengan intensitas yang cukup keras.
Hingga Rabu (26/8/2026), BMKG mencatat telah terjadi 7.492 kali gempa susulan pasca gempa utama M 7,7 pada 15 Agustus lalu. Dari jumlah tersebut, gempa dengan magnitudo terbesar tercatat 6,2, sementara magnitudo terkecil 1,0.
“Total gempa bumi susulan: 7492,” tulis BMKG dalam siaran persnya, Rabu (26/8/2026).
Dampak gempa utama yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu masih menyisakan duka mendalam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana ini mencapai 103 orang hingga Selasa (25/8/2026).
Data BNPB menunjukkan sebaran korban jiwa terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 41 orang, disusul Manggarai Timur 34 orang, dan Nagekeo 13 orang. Adapun korban di Kabupaten Sikka tercatat 6 orang, Ngada 5 orang, Ende 3 orang, serta Manggarai Barat 1 orang.
“Kami mendapat tambahan angka sebanyak 63 orang yang luka-luka sehingga total yang kami catat adalah sebesar 1.666 orang,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Selasa (25/8/2026).
Ribuan warga di pesisir utara Flores masih bertahan di lokasi pengungsian. Ketakutan akan adanya gelombang susulan dan bangunan yang tidak lagi aman membuat banyak keluarga memilih untuk tetap tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan di dataran tinggi.
Kondisi ini diperparah dengan intensitas gempa susulan yang masih tinggi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi tanah longsor di daerah perbukitan serta kerusakan bangunan yang dapat membahayakan jiwa.