Gempa yang mengguncang Pulau Flores menimbulkan kerusakan masif. Data per 30 Agustus 2026 mencatat 115 orang meninggal dunia dan 1.780 lainnya luka-luka.
Kerusakan fisik melanda 90.600 unit rumah penduduk. Ratusan ribu jiwa terpaksa meninggalkan kediaman dan bertahan di lokasi pengungsian.
Skala dampak ini menjadi perhatian utama pemerintah provinsi. Angka korban jiwa menjadikan gempa ini salah satu bencana terbesar dalam catatan terkini NTT. Ratusan ribu rumah rusak tersebar di sejumlah kabupaten, menambah pelik persoalan penempatan pengungsi.
Gubernur Melki menegaskan satu prinsip kunci: distribusi bantuan tidak boleh terkonsentrasi pada satu wilayah atau titik pengungsian tertentu. Ia menginstruksikan jajarannya memperkuat pendataan lokasi pengungsian, jumlah warga, dan kebutuhan di setiap wilayah.
"Bantuan harus bisa didapat oleh semua masyarakat yang membutuhkan," tegas Melki dalam rapat evaluasi penanganan bencana tersebut.
Pendataan akurat menjadi fondasi utama agar tidak ada warga terlewat dari jangkauan bantuan. Hal ini penting terutama bagi mereka yang berada di daerah terpencil atau lokasi pengungsian yang tidak tercatat resmi.
Pemerintah provinsi tidak hanya memprioritaskan pangan dan tempat tinggal. Perhatian serius juga diarahkan pada ketersediaan air bersih, sanitasi, serta layanan kesehatan di setiap lokasi pengungsian.
Langkah ini sekaligus mengantisipasi munculnya penyakit akibat keterbatasan sanitasi dan kepadatan warga. Perlindungan kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak, diperkuat melalui pendampingan psikososial dan trauma healing.
Layanan ini disiapkan untuk memulihkan kondisi mental para korban, khususnya anak-anak yang mengalami guncangan hebat akibat gempa.
Masa tanggap darurat masih berlangsung, namun Gubernur Melki mengingatkan pemulihan pascabencana tidak berhenti di tenda pengungsian. Aktivitas masyarakat harus digerakkan kembali secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat keamanan di setiap wilayah.
"Pelan-pelan sektor kehidupan masyarakat harus kita dorong untuk kembali normal. Sektor-sektor produktif harus mulai bergerak," ujarnya.
Aktivitas gempa susulan dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, pemerintah tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap bangunan yang mengalami kerusakan struktural.
Dalam proses penanganan ini, Pemprov NTT bersama TNI-Polri, pemerintah kabupaten, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan relawan terus bergotong royong. Upaya ini diarahkan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi dan tidak ada warga terdampak yang luput dari bantuan.