LARANTUKA — Kopdit Pintu Air Waiwadan resmi berstatus kantor cabang sejak Jumat, 11 September 2026. Sebelumnya, kantor di Desa Wiwadan, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, itu menyandang status Kantor Cabang Pembantu (KCP).
Status baru ini menjadikan Waiwadan sebagai cabang ke-74 Kopdit Pintu Air. Peresmian ditandai dengan misa syukur yang dipimpin Paroki St. Maria Goreti Waiwadan, Romo Hendrikus Raya Kleden, didampingi pastor rekan Romo Rosarius Yansen Raring.
Dalam kotbahnya, Romo Rosarius menyoroti kecenderungan orang yang berlomba-lomba menjadi tuan dan bos. Ia meminta pengurus, pengawas, komite, dan staf manajemen Kopdit Pintu Air mengambil posisi sebaliknya.
Menurut dia, kunci penting mengelola koperasi adalah menjadi pelayan bagi anggota. Anggota harus mendapat tempat utama dalam setiap kerja para pengelola koperasi.
Ia menegaskan, memenangkan hati anggota tidak dilakukan dengan menjadi bos.
Ketua Komite Kopdit Pintu Air Cabang Adonara dan Waiwadan, Adrianus Ama Kayan, dalam laporannya menyampaikan bahwa Cabang Waiwadan hadir di Nusa Tadon Adonara pada 23 September 2024. Sejak dipisahkan secara administrasi dari cabang induknya, kantor itu mencatat sejumlah progres sesuai indikator keberhasilan yang ditargetkan.
Pertumbuhan anggota bergerak dari 1.612 orang menjadi 3.005 orang pada kondisi Agustus 2026. Rinciannya, anggota nelayan 26 orang, petani 1.184 orang, peternak 61 orang, buruh 99 orang, dan sisanya ibu rumah tangga serta ASN sebanyak 1.635 orang. Mereka tersebar di 12 titik pelayanan.
Total aset tercatat Rp16 miliar. Simpanan saham anggota saat awal pemisahan Rp2,7 miliar, naik menjadi Rp4,1 miliar lebih pada akhir Agustus 2026. Sementara simpanan non saham mencapai Rp3,2 miliar dari sebelumnya hanya Rp1,2 miliar.
Adrianus menyebut pertumbuhan signifikan itu terjadi berkat kerja keras tim, serta restu leluhur dan alam sekitar yang bekerja dengan caranya yang tidak kelihatan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pengurus dan manajemen kantor pusat atas bimbingan dan arahan demi memperkuat kapasitas staf di lapangan.
"Pintu Air bukan saja berkutat dengan uang dan uang, tetapi melalui aspek spiritual segenap pengelola diteguhkan agar terus melayani anggota dengan baik," tutup Adrianus.