NUSA TENGGARA TIMUR — Pernyataan itu disampaikan Eko kepada wartawan di Yogyakarta, Jumat (11/9). Ia menegaskan perang antara AS dengan Iran berdampak lebih berat ke sektor energi dibandingkan perang Ukraina dengan Rusia.
"Kita berharap semoga itu (perang di Timur Tengah mereda) bisa terjadi segera. Kalau tidak, kondisinya akan berdampak seperti sekarang," kata Eko.
Alasan di balik kekhawatiran itu, menurut Eko, adalah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan energi dunia. Dampaknya terasa secara global, bukan hanya pada ketersediaan energi tetapi juga pada harga yang belum stabil.
"Dengan adanya perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global. Selain ketersediaan energi di dunia, harga yang saat ini juga belum stabil," tutur Eko.
Eko menyebut harga minyak dunia yang tak kunjung turun ke level USD 60 sampai USD 70 per barel akan langsung memukul harga BBM nonsubsidi. Pertamax hingga Pertamina Dex masuk kategori yang paling rentan terdampak.
"Harga Pertamax, Dex, itu akan berkisar di angka Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribuan karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," ungkap Eko.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi masih aman sampai akhir tahun ini. Jaminan itu berlaku meski minyak dunia kembali menembus USD 100 per barel.
Penyebabnya, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sampai September masih berada pada kisaran USD 85 sampai 90 per barel. Angka itu belum menembus level yang bisa mengguncang subsidi.
ICP Agustus 2026 tercatat naik ke level USD 89,43 per barel. Kenaikan itu salah satunya dipengaruhi oleh faktor geopolitik sepanjang Agustus 2026.
Kenaikan terjadi sekitar USD 7,75 per barel dibandingkan ICP Juli 2026 yang berada di level USD 81,68 per barel. Selisih itu menunjukkan tekanan geopolitik sudah mulai terasa di pasar minyak mentah Indonesia.
Jika tensi di Timur Tengah tidak mereda, pengguna Pertamax dan Pertamina Dex di Indonesia harus bersiap menghadapi harga di kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribuan. Sementara pengguna BBM subsidi untuk sementara masih terlindungi hingga akhir tahun.