KUPANG — Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan pergerakan fluktuatif. Setelah sempat dibuka menguat 0,39 persen ke level 6.625, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan terkoreksi 0,28 persen atau turun 18,49 poin ke posisi 6.581,44 pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (2/9/2026). Level terendah indeks sempat menyentuh posisi 6.561.
Pelemahan ini terjadi sehari setelah IHSG mencatat penguatan signifikan sebesar 1,14 persen pada Selasa (1/9/2026) ke level 6.599,94. Aksi beli investor asing yang mencapai Rp1,76 triliun menjadi pendorong utama penguatan pada perdagangan sebelumnya, dengan saham-saham seperti BBRI, BBCA, BMRI, TPIA, dan CPIN menjadi incaran utama.
Koreksi ini sejalan dengan proyeksi BNI Sekuritas yang sejak awal memperkirakan potensi koreksi wajar. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memaparkan, level support indeks berada di rentang 6.540-6.570, sementara level resistansi diperkirakan bergerak di kisaran 6.620-6.700.
Kenapa IHSG Berbalik Melemah?
Tekanan utama datang dari sentimen global yang memburuk. Bursa saham Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Selasa (1/9/2026) dengan Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 400 poin. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi memicu inflasi lebih tinggi.
Harga minyak melonjak tajam setelah Komando Pusat AS menyatakan pasukannya menyerang target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran. Minyak mentah WTI melesat 5,2 persen, sementara Brent naik 4,6 persen sejak awal pekan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah ini pun membebani sentimen investor di kawasan Asia, di mana mayoritas bursa saham regional ditutup melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,15 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,93 persen.
Faktor Domestik Ikut Menahan Pergerakan IHSG
Dari dalam negeri, investor juga mencermati data inflasi terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,19 persen, meningkat dibandingkan inflasi tahunan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,88 persen.
"Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong naik imbal hasil obligasi AS," ujar Fanny. Ia menambahkan, kondisi tersebut kembali memunculkan perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan dalam dua pekan mendatang. Para pelaku pasar juga masih menantikan rilis data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) Agustus yang akan diumumkan pada Jumat (4/9/2026) mendatang.