Film Backrooms Tembus USD 400 Juta, Jadi Terlaris Sepanjang Masa A24

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Minggu, 20 September 2026 | 21:34:01 WIB
Film horor "Backrooms" menembus pendapatan USD 400,09 juta di box office global.

NUSA TENGGARA TIMUR — Film horor indie "Backrooms" resmi menembus pendapatan USD 400,09 juta di box office global setelah hampir empat bulan tayang di bioskop. Sutradara Kane Parsons, yang baru berusia 20 tahun, mengantarkan karya berbiaya produksi hanya USD 10 juta ini menjadi film terlaris sepanjang sejarah rumah produksi A24. Pencapaian tersebut sekaligus mengukuhkan "Backrooms" sebagai salah satu film paling menguntungkan tahun ini.

Angka tersebut diraih "Backrooms" dari kombinasi pendapatan domestik Amerika Serikat dan Kanada sebesar USD 197,5 juta serta pasar internasional USD 202,57 juta. Dengan modal produksi USD 10 juta, film ini mencatatkan salah satu rasio keuntungan tertinggi di antara rilisan tahun ini.

Rekor Baru di Sepanjang Sejarah A24

Bagi A24, "Backrooms" bukan sekadar hit biasa. Film ini melampaui rekor pendapatan tertinggi studio tersebut yang sebelumnya dipegang "Marty Supreme" dengan USD 192 juta.

Pencapaian itu juga terlihat dari sisi pembukaan. "Backrooms" meraup USD 81 juta di pasar domestik dan USD 118 juta secara global pada pekan debutnya. Angka ini lebih dari tiga kali lipat rekor pembukaan domestik A24 sebelumnya yang dipegang "Civil War" (2024) arahan Alex Garland dengan USD 25,5 juta.

Kane Parsons, Sutradara Termuda dengan Film Nomor 1

Kesuksesan "Backrooms" turut mengangkat nama Kane Parsons. Saat film ini debut di posisi puncak box office, Parsons masih berusia 20 tahun. Ia pun tercatat sebagai pembuat film termuda yang berhasil menempatkan karyanya di peringkat pertama box office.

Rekor sebelumnya dipegang Josh Trank, yang berusia 27 tahun ketika "Chronicle" (2012) memuncaki tangga box office dengan USD 22 juta. Sebelum menyutradarai film ini, Parsons dikenal lewat serial web "Backrooms" yang ia kembangkan dari fenomena internet seputar liminal spaces.

Dari Serial Web ke Layar Lebar

"Backrooms" diadaptasi dari serial web populer Parsons tentang liminal spaces, yakni ruangan dan struktur aneh yang tampak tak berujung. Konsep ini pertama kali muncul di forum 4chan dan berkembang di komunitas daring seperti Reddit hingga TikTok.

Versi layar lebarnya dibintangi Chiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, dan Mark Duplass. Ceritanya mengikuti seorang pemilik toko furnitur yang menemukan deretan ruang liminal tanpa ujung di basement tokonya.

Pasar Internasional Jadi Penopang

Di luar Amerika Serikat dan Kanada, sejumlah wilayah menyumbang pendapatan terbesar bagi "Backrooms". Tiongkok memimpin dengan USD 27,8 juta, disusul Meksiko USD 17,8 juta, Inggris USD 17,6 juta, Australia dan Selandia Baru USD 12,3 juta, serta Prancis USD 12,2 juta.

Kesuksesan ini berbarengan dengan fenomena "Obsession", film horor berbiaya rendah lain garapan sutradara muda Curry Barker yang baru berusia 26 tahun. "Obsession" menghasilkan USD 516 juta secara global dengan modal produksi hanya USD 750 ribu.

A24 Ungguli Studio Besar di Musim Panas

Dorongan "Backrooms" membuat A24 mencatatkan musim panas terbaiknya sekaligus mengalahkan Warner Bros. dan Paramount dari sisi pangsa pasar. A24 menutup musim panas dengan total USD 237 juta dan menempati peringkat keempat di antara distributor.

Posisi itu berada di atas Paramount (USD 192 juta) dan Warner Bros. (USD 165 juta), namun masih di bawah Universal (USD 1,12 miliar), Sony (USD 978,8 juta), dan Disney (USD 664 juta). Ini menjadi salah satu momen langka ketika distributor independen melampaui studio besar pada periode popcorn season.

Peluang Sekuel Masih Terbuka

Meski sekuel belum dikonfirmasi resmi, Parsons telah memberi sinyal ingin menjadikan "Backrooms" sebagai waralaba film. Sementara itu, studio-studio lain kini disebut tengah mencari sosok sutradara muda berikutnya seperti Parsons.

Bagi industri film Indonesia, fenomena "Backrooms" dan "Obsession" menunjukkan bahwa cerita berbiaya rendah dengan basis penggemar daring yang kuat masih bisa bersaing di pasar global.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top